Makan Terlalu Larut Malam Picu Lonjakan Gula Darah, Ini Alasannya
JAKARTA, iNews.id - Makan terlalu larut malam ternyata tidak hanya dapat mengganggu waktu tidur, tetapi juga berpengaruh terhadap cara tubuh mengatur kadar gula darah. Waktu makan menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan untuk menjaga kesehatan metabolisme.
Dikutip dari Verywell Health, pembatasan waktu makan atau intermittent fasting dapat membantu tubuh mengatur kadar gula darah dan meningkatkan sensitivitas insulin. Namun, manfaat tersebut juga berkaitan dengan kapan seseorang mengonsumsi makanan.
Makanan yang sama dapat memberikan respons berbeda pada tubuh ketika dikonsumsi pada waktu yang berbeda. Makan terlalu larut malam disebut dapat memicu lonjakan gula darah yang lebih tinggi dibandingkan ketika makanan yang sama dikonsumsi lebih awal pada hari yang sama.
Kondisi tersebut berkaitan dengan ritme sirkadian, yaitu sistem biologis yang mengatur berbagai fungsi tubuh dalam siklus sekitar 24 jam. Metabolisme tubuh juga mengikuti ritme tersebut sehingga respons terhadap makanan dapat berubah sepanjang hari.
Pada malam hari, tubuh secara alami mulai bersiap untuk beristirahat. Aktivitas metabolisme dan respons insulin dapat berbeda dibandingkan pada siang hari.
Ketika seseorang makan dalam jumlah besar menjelang waktu tidur, tubuh tetap harus memproses asupan tersebut saat sistem metabolisme mulai memasuki fase istirahat. Kondisi ini dapat membuat pengaturan gula darah menjadi kurang optimal.
Jangan Sering Ngemil Larut Malam
Kebiasaan makan atau ngemil terus-menerus hingga larut malam juga membuat tubuh memiliki waktu yang lebih pendek tanpa asupan makanan. Padahal, periode tanpa makanan memberikan kesempatan bagi tubuh untuk mengatur kembali kadar gula darah dan respons insulin.
Intermittent fasting memanfaatkan periode tersebut dengan membatasi waktu seseorang mengonsumsi makanan. Salah satu pola yang populer adalah 16:8, yakni puasa selama 16 jam dan makan dalam jendela delapan jam.
Ketika seseorang tidak terus-menerus makan, terutama pada malam hari, sensitivitas insulin berpotensi meningkat. Tubuh kemudian dapat menjadi lebih baik dalam mengatur kadar gula darah.
Sensitivitas insulin penting bagi kesehatan secara keseluruhan karena resistensi insulin dikaitkan dengan berbagai gangguan metabolisme. Kondisi tersebut juga disebut berperan dalam proses penuaan otak.
Meski demikian, menghindari makan larut malam bukan berarti seseorang harus memaksakan diri berpuasa selama mungkin. Durasi dan waktu makan perlu disesuaikan dengan kebutuhan serta kondisi masing-masing.
Kualitas Makanan Tetap Penting
Selain memperhatikan waktu makan, jenis makanan yang dikonsumsi juga tidak kalah penting. Pola makan sehat sebaiknya tetap menjadi dasar dalam menjaga kadar gula darah.
Buah dan sayuran, kacang-kacangan, polong-polongan, ikan berlemak, kenari, dan minyak zaitun dapat menjadi pilihan. Makanan kaya antioksidan dan polifenol seperti blueberry juga dapat dimasukkan dalam menu sehari-hari.
Sebaliknya, konsumsi gula tambahan dan daging olahan sebaiknya dibatasi. Pola makan MIND, Mediterania, dan DASH juga memiliki bukti observasional terkait dengan penuaan kognitif yang lebih lambat.
Karena itu, kebiasaan makan terlalu larut malam sebaiknya tidak dilakukan terus-menerus. Mengatur waktu makan lebih awal, mengurangi ngemil malam, serta memilih makanan bernutrisi dapat menjadi bagian dari pola hidup yang mendukung kesehatan metabolisme.










