Jokowi Ingatkan Pemegang Kekuasaan: Jangan Suka Menjatuhkan, Jabatan Hanya Sementara

Jokowi Ingatkan Pemegang Kekuasaan: Jangan Suka Menjatuhkan, Jabatan Hanya Sementara

Terkini | inews | Minggu, 30 Agustus 2026 - 17:07
share

KEBUMEN, iNews.id - Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) mengingatkan para pemegang kekuasaan agar tidak menggunakan jabatan untuk menjatuhkan atau menyakiti orang lain. Ia menilai kekuasaan dan jabatan hanya bersifat sementara sehingga harus dijalankan dengan bijaksana.

Pesan tersebut disampaikan Jokowi saat menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus Haul ke-8 Al-Maghfurlah KH Musyafa Ali di Pondok Pesantren Al-Falah Kebumen, Jawa Tengah, Sabtu (29/8/2026).

Dalam sambutannya, Jokowi menyampaikan petuah Jawa, ‘Lamun siro sekti, ojo mateni’. Petuah tersebut secara sederhana bermakna seseorang yang memiliki kekuatan atau kekuasaan tidak semestinya menggunakannya untuk menjatuhkan orang lain.

“Meskipun kamu sakti, jangan suka menjatuhkan atau membunuh. Memang kita punya kekuasaan, ya besar, kemudian kita pakai untuk menjatuhkan orang. Itu hal yang tidak baik,” kata Jokowi.

Jokowi menilai pesan tersebut relevan bagi siapa pun yang mendapat amanah kepemimpinan, baik dalam lingkup kecil maupun besar.

Dia mencontohkan pemimpin di tingkat pemerintahan desa atau kelurahan. Menurut Jokowi, seseorang tidak semestinya berubah menjadi arogan setelah memperoleh jabatan.

“Jangan mentang-mentang jadi lurah, kemudian ke rakyatnya sering ngendika banter, sering ngendika kasar ke rakyat, nggak boleh,” ujarnya.

Jokowi kemudian mengingatkan para pemegang jabatan agar tidak terlena dengan kekuasaan. Menurut dia, posisi tersebut tidak melekat selamanya pada seseorang.

“Karena kekuasaan itu hanya sementara. Kekuasaan itu hanya sak detik. Jabatan itu hanya sampiran, itu yang harus diingat waktu kita memiliki kekuasaan,” kata dia.

Dalam peringatan Maulid Nabi tersebut, Jokowi juga mengajak masyarakat, terutama mereka yang memiliki posisi dan pengaruh, tidak menjadikan kekuasaan atau kelebihan sebagai alasan untuk merendahkan orang lain.

Dia menilai kehidupan akan lebih baik jika setiap orang mampu mengendalikan diri dan tidak memperbesar persoalan melalui tindakan yang tidak diperlukan.

Jokowi juga mengingatkan pentingnya perkataan yang disampaikan di tengah masyarakat. Menurut dia, ucapan seorang pemimpin atau tokoh semestinya menjadi teladan dan mendorong orang lain melakukan hal positif.

“Adab ketimuran, sopan santun, tata krama harus dijaga,” katanya.

Jokowi, yang menjabat sebagai Presiden ke-7 RI pada periode 2014-2024, turut mengingatkan masyarakat untuk menjaga kesopanan dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut dia, kebiasaan saling mencaci dan menghina hanya akan memperbesar persoalan di tengah berbagai tantangan kehidupan.

Karena itu, dia mengajak masyarakat memperkuat adab, tata krama, serta sikap saling menghormati.

Pesan tersebut juga ditujukan kepada orang yang memiliki kekuasaan, ilmu, maupun kelebihan dibandingkan orang lain. Jokowi mengingatkan posisi dan kekuasaan tidak dimiliki selamanya.

“Karena kekuasaan itu hanya sementara,” kata Jokowi.

Topik Menarik