IFA 2026 Archipelago Kalimantan Selatan 2026 Suguhkan Koleksi Modest Fashion Next Level!
BANJARBARU, iNews.id – Perkembangan modest fashion di Kalimantan Selatan mulai menunjukkan geliat yang semakin kuat. Busana muslim kini tidak hanya menjadi bagian dari kebutuhan sehari-hari.
Ya, busana muslim kini berkembang menjadi industri yang melibatkan banyak pelaku usaha, mulai dari penjahit, konveksi, pengrajin, hingga pemilik brand lokal. Itu juga yang menandai bahwa modest fashion bisa menjadi bisnis yang kuat.
Geliat tersebut terlihat dalam penyelenggaraan Indonesia Fashion Aesthetics (IFA) Archipelago Kalimantan Selatan 2026. Ajang fashion ini menjadi ruang bagi kreativitas, budaya, dan bisnis untuk bertemu dalam satu panggung.
Perkembangan modest fashion di daerah juga menunjukkan bahwa industri ini tidak hanya bertumpu pada nama-nama besar. Justru, banyak usaha kecil yang menjadi bagian penting dari rantai produksi sebuah produk fashion.
Satu koleksi busana yang tampil menarik di hadapan konsumen, misalnya, bisa melibatkan pemasok bahan baku, penjahit, konveksi, pengrajin, hingga pemilik brand sebelum akhirnya dipasarkan. Artinya, semakin besar pasar modest fashion, semakin banyak pula pelaku usaha yang berpotensi ikut tumbuh.
Modest Fashion Bukan Sekadar Tren Busana
Modest fashion kini berkembang lebih jauh dari sekadar tren pakaian tertutup. Industri ini menjadi pertemuan antara gaya, identitas budaya, kreativitas, dan peluang ekonomi.
Kondisi tersebut membuat pelaku usaha di daerah memiliki kesempatan untuk mengembangkan produk dengan karakter lokal. Bagi brand, tantangannya bukan hanya menciptakan desain yang menarik. Mereka juga perlu memiliki kemampuan produksi, pengelolaan keuangan, pemasaran, hingga akses terhadap konsumen yang lebih luas.
Hal serupa berlaku bagi penjahit dan konveksi. Ketika permintaan meningkat, kemampuan meningkatkan kapasitas produksi menjadi salah satu faktor penting agar mereka dapat berkembang. Karena itu, penguatan ekosistem menjadi bagian penting dalam perkembangan industri modest fashion.
Dukungan terhadap pelaku usaha kini mulai diarahkan tidak hanya berupa modal, tetapi juga pelatihan, pendampingan, digitalisasi transaksi, pengelolaan keuangan, serta pembukaan akses pasar.
Salah satu pihak yang ikut mengambil bagian dalam penguatan ekosistem tersebut adalah PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI), yang menjadi Official Bank Partner IFA Archipelago Kalimantan Selatan 2026.
Melalui pendekatan ekosistem 360 derajat, dukungan diarahkan kepada pelaku usaha di berbagai titik rantai industri, termasuk usaha mikro yang bergerak di bidang produksi.
Hingga saat ini, menurut laporan BSI, bank tersebu telah menyalurkan pembiayaan kepada sekitar 350 ribu nasabah UMKM dengan total pembiayaan sekitar Rp53 triliun.
Dukungan terhadap UMKM juga dilakukan melalui empat BSI UMKM Center yang membina 6.037 UMKM lewat program pelatihan, inkubasi bisnis, dan pengembangan kapasitas.
Sementara itu, kolaborasi dengan BSI Maslahat turut menyasar pelaku usaha mikro, termasuk penjahit dan konveksi yang masih menghadapi keterbatasan akses permodalan.
Perempuan Ikut Jadi Penggerak
Pertumbuhan modest fashion juga tidak dapat dipisahkan dari konsumen perempuan. Komunitas perempuan menjadi salah satu penggerak pasar karena tidak hanya menggunakan produk fashion, tetapi juga ikut mengenalkan brand, membentuk tren, hingga menciptakan jaringan konsumen.
Hubungan antara pelaku produksi, brand, komunitas, dan konsumen tersebut pada akhirnya membentuk ekosistem yang saling menguntungkan.
Jika ekosistem tersebut semakin kuat, peluang brand lokal untuk berkembang dan menjangkau pasar yang lebih luas juga semakin terbuka.
Kalimantan Selatan pun memiliki kesempatan untuk memanfaatkan momentum tersebut. Kreativitas lokal dapat menjadi pembeda ketika produk tidak hanya menawarkan desain, tetapi juga membawa karakter dan cerita dari daerah asalnya.
Pada akhirnya, geliat modest fashion tidak hanya bisa dilihat dari busana yang tampil di panggung. Ada banyak pelaku usaha di belakangnya yang ikut menggerakkan roda ekonomi.
Mulai dari penjahit yang mengerjakan pakaian, konveksi yang meningkatkan kapasitas produksi, pengrajin yang menghadirkan detail khas, hingga brand yang membawa produk tersebut bertemu dengan konsumen.
Jika seluruh mata rantai tersebut tumbuh bersama, modest fashion Kalsel bukan tidak mungkin semakin diperhitungkan di pasar yang lebih luas. Seperti laporan BSI, kemajuan modest fashion seharusnya tidak hanya diukur dari berkembangnya sebuah brand, tetapi juga dari tumbuhnya seluruh pelaku dalam rantai nilai industri.









