AS Berlakukan Perang Ekonomi, Iran: Deklarasi Kekalahan!
TEHERAN, iNews..id - Amerika Serikat (AS) memberlakukan sanksi ekonomi besar-besaran terhadap Iran, dalam istilah Presiden Donald Trump operasi ekonomi, terhadap Iran. Menteri Keuangan AS Scott Bessent akan menjelaskan secara rinci daftar sanksi baru terhadap Iran, Senin (24/8/2026) waktu AS.
Sanksi tersebut mengisolasi Iran sepenuhnya dari perdagangan dan keuangan global. Trump bahkan menyebut perang ekonomi terhadap Iran belum pernah dialami oleh negara mana pun sebelumnya.
Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Iran Kazem Gharibabadi menepis pernyataan para pejabat AS mengenai kehancuran yang akan diderita negaranya akibat perang ekonomi ini.
Gharibabadi menegaskan, operasi ekonomi AS terhadap Iran akan gagal sebagaimana operasi militer sebelumnya. Tujuan perang AS dan Israel terhadap Iran sejak 28 Februari lalu, termasuk melucuti program nuklir Iran, gagal dicapai.
"Narasi Anda tidak masuk akal, Anda mengatakan kekuatan militer Iran telah 'dilumpuhkan', 100 persen pabrik militernya 'dihancurkan', dan program nuklirnya 'dikubur'," ujar Gharibabadi, dalam posting-an di media sosial X, dikutip Selasa (25/8/2026).
Gharibabadi menambahkan, narasi yang disampaikan AS, yakni 'invasi finansial terbesar dalam sejarah' dan mobilisasi 'seluruh institusi serta kekuatan Amerika Serikat' terhadap Iran sebagai deklarasi kekalahan.
"Apakah ini sebuah kemenangan atau pengakuan atas kekalahan Amerika?" tulisnya.
Bessent, dalam tulisan opini di surat kabar Inggris Financial Times, mengatakan AS sedang melakukan "serangan finansial terbesar yang pernah dilakukan terhadap musuh" dan menyebutnya sebagai Hari-H Operasi Ekonomi.
Bessent melanjutkan, langkah tersebut diambil setelah AS melumpuhkan kemampuan militer, menghancurkan hampir 100 persen pabrik senjata, dan mengubur program nuklir Iran.
Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Iran memperingatkan negara-negara tetangga di kawasan maupun negara lain tidak ikut bersama AS dalam perang ekonomi tersebut.
Juru Bicara Kemlu Iran Esmail Baghaei mengatakan, keterlibatan negara lain dalam kampanye AS pasti akan menghadapi konsekuensi.










