Kenapa Lemak Perut Bawah Susah Hilang meski Sudah Diet dan Rajin Olahraga? Ini Penjelasan Dokter
JAKARTA, iNews.id - Pernah merasa sudah rutin berolahraga dan menjalani diet, tetapi lemak di area perut bawah masih sulit hilang? Kondisi ini ternyata memiliki penjelasan secara biologis.
Dokter sekaligus influencer kesehatan, dr. Adam Prabata, menjelaskan penurunan berat badan secara umum memang dapat mengurangi lemak di berbagai bagian tubuh. Namun, ada area tertentu yang memiliki karakteristik biologis sehingga lemaknya lebih sulit dilepaskan.
“Memang secara umum, bila kita mengurangi kalori, maka kita akan mengurangi lemak secara keseluruhan. Tapi, ternyata ada emang bener ada loh bagian lemak di tubuh yang lebih bandel,” ujar dr. Adam, dikutip Kamis (20/8/2026).
Menurut dr. Adam, proses pelepasan lemak atau lipolisis di dalam tubuh dipengaruhi hormon katekolamin. Hormon tersebut bekerja dengan mengikat sejumlah reseptor yang terdapat pada sel lemak.
“Proses pelepasan lemak (lipolisis) di tubuh diatur oleh hormon katekolamin. Katekolamin ini mengikat dua jenis reseptor utama di sel lemak,” ungkap dia.
Dia menjelaskan terdapat dua jenis reseptor utama yang berperan dalam proses tersebut, yakni beta adrenergik dan alpha-2 adrenergik.
Reseptor beta adrenergik berfungsi merangsang lipolisis sehingga lemak dapat dilepaskan dari sel lemak. Sebaliknya, reseptor alpha-2 adrenergik justru menghambat proses tersebut sehingga lemak lebih sulit dilepaskan.
“Antara lain reseptor beta adrenergik, merangsang lipolysis (melepaskan lemak). Reseptor alpha-2 adrenergik, menghambat lipolysis (menahan lemak),” tutur dr. Adam.
Dr. Adam mengatakan sejumlah area tubuh memiliki jumlah reseptor alpha-2 adrenergik yang lebih tinggi. Kondisi tersebut membuat pelepasan lemak di area tersebut menjadi lebih sulit.
“Nah ada area-area yang memang reseptor alpha-2 adrenergiknya lebih tinggi yaitu di perut bawah, payudara, dan bokong, sehingga sinyal pelepasan lemak lebih sulit terjadi di sana,” lanjut dia.
Selain faktor reseptor, aliran darah juga turut berpengaruh. Menurut dr. Adam, sirkulasi darah pada jaringan lemak di area tertentu, termasuk perut bawah, cenderung lebih rendah.
“Bahkan aliran darah di area lemak tersebut lebih rendah, sehingga hormon katekolamin lebih sulit mencapai sel lemaknya,” kata dr. Adam.
Kombinasi tingginya reseptor alpha-2 adrenergik dan rendahnya aliran darah tersebut membuat lemak di area tertentu lebih sulit menyusut. Karena itu, perut bawah dapat menjadi salah satu bagian tubuh yang terlihat lebih lama mengecil selama proses penurunan berat badan.
Lantas, bagaimana cara mengatasinya? dr Adam menekankan pentingnya menjalankan defisit kalori secara konsisten sekaligus melakukan latihan fisik untuk membantu mempertahankan dan membangun massa otot.
“Akibatnya area perut bawah ini menjadi bagian terakhir yang menipis. Perlu defisit kalori yang konsisten sekaligus latihan otot agar tubuh terpaksa mengambil lemak dari lokasi yang lebih sulit tersebut,” ujar dr. Adam.










