Tak Jelas Kapan Berakhir, Perang Timur Tengah Mulai Bikin Negara Teluk Gerah

Tak Jelas Kapan Berakhir, Perang Timur Tengah Mulai Bikin Negara Teluk Gerah

Berita Utama | inews | Selasa, 18 Agustus 2026 - 13:14
share

WASHINGTON, iNews.id - Negara-negara sekutu Amerika Serikat (AS) di kawasan Teluk mulai frustrasi dengan perang melawan Iran yang tak kunjung berakhir. Mereka bahkan mulai mempertanyakan kebijakan Presiden AS Donald Trump yang dinilai membuat negara-negara Teluk ikut menanggung dampak konflik tersebut.

"Trump memulai perang ini, dan kita yang membayar harganya," kata seorang pejabat negara Teluk, kepada surat kabar The Washington Post, dikutip Selasa (18/8/2026).

Menurut dia, kemarahan negara-negara Teluk terhadap Washington kini telah mencapai titik tertinggi. Kekecewaan tersebut muncul karena sejumlah negara di kawasan semakin intensif menjadi sasaran serangan rudal dan drone Iran serta kelompok-kelompok proksi sebagai respons terhadap operasi militer AS.

Enam negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), yakni Oman, Qatar, Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, Kuwait, dan Arab Saudi, terdampak konflik tersebut. Yordania dan Irak juga menjadi sasaran serangan.

Seorang diplomat Barat yang bertugas di kawasan Teluk mengatakan, perkembangan tersebut memang menunjukkan meningkatnya ketidakpuasan terhadap AS. Namun, menurut dia, belum ada tanda bahwa negara-negara Teluk akan secara drastis mengubah hubungan mereka dengan Washington.

Kehadiran pasukan AS di Timur Tengah sendiri sebenarnya telah lama menimbulkan perdebatan. Bahkan sebelum perang dengan Iran pecah, kehadiran militer Washington di kawasan tidak selalu disambut antusias oleh masyarakat maupun sebagian kalangan politik negara-negara Teluk.

Di sisi lain, seorang pejabat senior Gedung Putih membantah anggapan bahwa hubungan AS dengan negara-negara Teluk sedang memburuk.

Dia mengatakan Trump masih memiliki hubungan yang sangat baik dengan para mitra Washington di kawasan. Komunikasi antara AS dan negara-negara Teluk juga disebut tetap berlangsung secara rutin, bahkan semakin intensif sejak perang pecah.

Namun, ketergantungan terhadap AS membuat negara-negara Teluk berada dalam posisi sulit. Mereka masih membutuhkan Washington untuk mendapatkan dukungan keamanan, termasuk pasokan persenjataan, amunisi, serta informasi intelijen.

Topik Menarik