9 Rumah Sakit dan 68 Puskesmas Rusak akibat Gempa NTT, RSUD Nagekeo Lumpuh Total!

9 Rumah Sakit dan 68 Puskesmas Rusak akibat Gempa NTT, RSUD Nagekeo Lumpuh Total!

Terkini | inews | Minggu, 16 Agustus 2026 - 13:38
share

JAKARTA, iNews.id - Gempa bumi Magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Mbay-Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026), berdampak serius terhadap layanan kesehatan. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat sembilan rumah sakit dan 68 puskesmas mengalami kerusakan akibat bencana tersebut.

Data per 16 Agustus 2026 dihimpun melalui tim Health Emergency Operation Center (HEOC) yang diterjunkan ke sejumlah wilayah terdampak.

Dari sembilan rumah sakit yang mengalami kerusakan, enam di antaranya masuk kategori rusak ringan dan tiga lainnya rusak berat. Salah satu fasilitas bahkan tidak dapat beroperasi setelah mengalami kerusakan akibat gempa.

Sementara itu, kerusakan juga terjadi pada 68 puskesmas. Sebanyak 11 puskesmas mengalami kerusakan ringan, 37 rusak sedang dan 20 rusak berat. Dari jumlah tersebut, 19 puskesmas belum dapat beroperasi sama sekali.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan tingkat kerusakan fasilitas kesehatan di NTT cukup beragam. Namun, RSUD Nagekeo menjadi salah satu fasilitas yang mengalami dampak paling serius.

"Rumah sakitnya yang saya tahu ada dua yang rusak parah, yang paling parah di RSUD Nagekeo. Ada beberapa yang rusak sedang dan juga ada yang rusak ringan. Itu tugasnya dia nomor dua identifikasi fasilitas kesehatan," ujar Menkes Budi saat diwawancarai, Minggu (16/8/2026).

RSUD Nagekeo Tak Bisa Beroperasi, Rumah Sakit Lapangan Dikirim

Terhentinya operasional RSUD Nagekeo membuat pemerintah harus mencari solusi agar pelayanan medis tetap berjalan.

Kemenkes pun mengirimkan rumah sakit lapangan berupa fasilitas medis darurat yang akan dibangun di sekitar lokasi terdampak.

"Khusus untuk Rumah Sakit Nagekeo karena sudah berhenti beroperasi, kami kemarin malam kirim rumah sakit lapangan. Jadi pakai tenda gitu ya kami kirim ke sana dan rencana mungkin tiba di Nagekeo dalam sehari dua hari ini dan bisa terbangun," kata Budi.

Menurut Menkes Budi, keberadaan fasilitas kesehatan darurat menjadi penting karena kerusakan bangunan rumah sakit diperparah dengan terganggunya akses transportasi menuju sejumlah wilayah.

Situasi tersebut bahkan sempat menghambat evakuasi seorang ibu hamil yang mengalami komplikasi berat.

Ibu Hamil Terjebak, Jalan Menuju Rumah Sakit Putus

Menkes Budi menceritakan, tim kesehatan harus berpacu dengan waktu ketika menangani seorang ibu hamil di Nagekeo yang membutuhkan pertolongan medis segera.

RSUD Nagekeo yang tidak dapat beroperasi membuat pasien harus dirujuk ke fasilitas kesehatan lain. Persoalannya, akses menuju rumah sakit rujukan juga mengalami gangguan.

"Tadi malam juga Pak Gubernur juga sempat ikut. Kami ada satu pasien di Nagekeo yang ibu hamil melahirkan komplikasinya berat, enggak bisa dibawa karena rumah sakitnya enggak beroperasi. Yang paling dekat RSUD Borong dua jam yang baru kami bangun atau Rumah Sakit Komodo yang baru, cuma itu empat jam," ujar Budi.

Upaya evakuasi pun sempat terhambat karena jalur yang akan dilalui ambulans terputus.

"Kami mau jalan, jalannya putus. Jadi jam sekitar jam 10.00 kami koordinasi, Pak Gubernur langsung kirim tim polisi dan tim dari Dinas PU setempat, jam 03.00 ibu ini bisa ditarik oleh ambulans ke RSUD Borong," lanjutnya.

Menkes Budi mengatakan pasien tersebut kemudian dievakuasi menuju RSUD Borong. Pemerintah terus memantau kondisi pasien setelah proses evakuasi dilakukan.

Menurut dia, ibu hamil dengan komplikasi, korban patah tulang, serta pasien yang membutuhkan cuci darah menjadi kelompok yang sangat membutuhkan perhatian dalam situasi darurat bencana.

"Jadi harusnya pagi ini sudah sampai, tadi saya belum sempat lihat, saya sudah tahu saya udah jalan, mudah-mudahan jadi bisa selamat. Itu sebabnya yang critical emang ibu-ibu hamil, patah tulang itu critical, dan juga yang mau cuci darah itu sangat critical," tutur Budi.

Rumah Sakit Ditarget Pulih dalam Sepekan

Kemenkes kini mengejar pemulihan layanan kesehatan di wilayah terdampak. Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes Agus Jamaludin mengatakan seluruh rumah sakit yang terdampak ditargetkan kembali menjalankan operasional dasar paling lambat dalam satu minggu.

Layanan yang menjadi prioritas meliputi operasi trauma, pelayanan ibu dan anak serta hemodialisis atau cuci darah.

"Target paling lama satu Minggu, seluruh RSUD harus bisa melakukan operasional dasar. Fokus ke layanan Operasi Trauma, Ibu dan Anak, Hemodialisa," kata Agus.

Sementara untuk puskesmas, pemulihan ditargetkan selesai dalam waktu dua minggu.

"Diharapkan dalam 2 minggu seluruh Puskesmas yang rusak sudah beroperasi minimal kembali, fokus ke layanan ibu hamil, melahirkan dan imunisasi," sambungnya.

Khusus RSUD Nagekeo, pemerintah menyiapkan set rumah sakit mobil yang dilengkapi fasilitas ruang operasi untuk mendukung pelayanan medis selama fasilitas utama belum dapat digunakan.

Selain itu, RSUD Borong disiapkan sebagai rumah sakit rujukan dengan waktu tempuh sekitar dua jam, sedangkan Rumah Sakit Komodo menjadi alternatif rujukan dengan waktu tempuh sekitar empat jam dari Nagekeo.

Agus mengatakan fasilitas tersebut disiapkan agar kebutuhan pelayanan, khususnya kasus trauma dan pasien dengan kondisi kritis, tetap dapat ditangani meski sejumlah fasilitas kesehatan di wilayah terdampak masih dalam proses pemulihan.

Topik Menarik