Kemenkes Bentuk Tim Khusus Tangani Korban Gempa NTT, Dokter Bedah hingga Ortopedi Disiapkan

Kemenkes Bentuk Tim Khusus Tangani Korban Gempa NTT, Dokter Bedah hingga Ortopedi Disiapkan

Terkini | inews | Minggu, 16 Agustus 2026 - 13:28
share

JAKARTA, iNews.id - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) bergerak cepat menangani dampak gempa bumi Magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Mbay, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Kemenkes membentuk Health Emergency Operation Center (HEOC) secara berjenjang mulai dari tingkat pusat, provinsi hingga kabupaten/kota. Tim tersebut bertugas memastikan penanganan kesehatan di wilayah terdampak berjalan terkoordinasi.

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengatakan, keputusan membentuk HEOC diambil setelah dirinya menggelar rapat koordinasi dengan jajaran kesehatan di NTT pada Sabtu malam.

"Tadi malam saya sudah memimpin Zoom dengan seluruh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten/Kota, seluruh Direktur RSUD di NTT, serta seluruh Kepala Puskesmas di NTT di 8 Kabupaten/Kota terdampak," kata Budi saat ditemui di Chilax Sudirman, Jakarta, Minggu (16/8/2026).

Menurut Menkes, pemerintah juga telah mengirim tim gabungan ke NTT untuk melihat langsung kondisi di lapangan. Tim tersebut dipimpin Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) dan melibatkan sejumlah kementerian serta lembaga.

"Jam 8 kemarin dari Halim pemerintah sudah mengirim tim ke NTT. Dipimpin oleh Bapak Menko PMK, ada Pak Mendagri, ada Menteri PU, Kepala BNPB, ada Wamen Kesehatan, dan Wamen Sosial. Tim awal kesehatan juga sudah pergi ke sana untuk melihat situasi," ujarnya.

Petakan Korban hingga Fasilitas Kesehatan

Menkes Budi menjelaskan HEOC menjadi pusat koordinasi untuk memastikan kebutuhan kesehatan di lokasi bencana dapat dipetakan dengan cepat.

Ada dua tugas utama yang harus segera dilakukan, yakni mendata korban dan mengecek kondisi fasilitas kesehatan yang terdampak gempa.

"Tugasnya apa? Tugasnya yang pertama, mengidentifikasi korban-korban yang ada dengan cepat supaya tiap hari dua kali sehari kita bisa tahu update-nya. Yang nomor dua, mengidentifikasi fasilitas kesehatan yang rusak," jelas Budi.

Tak hanya itu, tim juga akan memetakan kebutuhan tenaga medis, obat-obatan hingga alat kesehatan di masing-masing wilayah.

Langkah tersebut dinilai penting karena tenaga kesehatan yang berada di daerah terdampak juga berpotensi menjadi korban bencana.

Kemenkes bahkan telah mengerahkan Emergency Medical Team (EMT) untuk melakukan pemetaan sebelum tenaga medis tambahan dan relawan dikirim ke lokasi.

"Satu kompi, satu regu untuk dikirim ke sana dan tugasnya adalah mengidentifikasi kebutuhannya di mana agar nanti malam ini kita bisa lepas ke relawan-relawan yang mau pergi. Supaya jangan salah perginya ke Kabupaten/Kota mana, lokasinya mana, butuhnya apa," kata Budi.

Dokter Bedah dan Ortopedi Jadi Prioritas

Kemenkes memprediksi kebutuhan tenaga medis pada fase awal pascagempa akan banyak berkaitan dengan penanganan korban trauma.

Karena itu, dokter dengan keahlian bedah dan ortopedi menjadi salah satu tenaga yang diprioritaskan untuk dikirim ke wilayah terdampak.

"Karena biasanya kalau gempa seperti ini yang dibutuhkan pertama kali adalah dokter bedah, dokter ortopedi, karena pasti traumanya banyak. Itu seminggu pertama pasti banyak ke sana," tutur Budi.

Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes Agus Jamaludin mengatakan proses identifikasi secara detail di lapangan ditargetkan selesai pada Minggu (16/8/2026).

Identifikasi tersebut mencakup masalah kesehatan, kondisi fasilitas pelayanan kesehatan, alat kesehatan serta kebutuhan obat-obatan.

"Identifikasi detail masalah kesehatan, faskes, alkes, kebutuhan obat-obatan akan diselesaikan team HEOC besok. Agar bisa dipakai sebagai acuan team relawan; datang ke mana, butuhnya apa, kontaknya siapa," ungkap Agus.

Berdasarkan data terakhir Kemenkes, gempa yang berdampak pada delapan wilayah di NTT tersebut telah menyebabkan puluhan korban jiwa.

Tercatat 46 orang meninggal dunia, 36 orang mengalami luka berat dan 77 orang luka ringan.

Sementara itu, tenaga kesehatan yang telah tersedia di wilayah terdampak terdiri dari 156 dokter, 5.979 perawat, 4.438 bidan dan 1.990 tenaga kesehatan lainnya.

Kemenkes memastikan pendataan dan pemetaan kebutuhan terus dilakukan agar bantuan medis yang dikirim ke NTT sesuai dengan kondisi di masing-masing wilayah terdampak.

Topik Menarik