Kepala SPPG di Berastagi Dicopot Imbas 279 Pelajar Diduga Keracunan MBG
KARO, iNews.id - Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatra Utara (Sumut), dicopot buntut dugaan kasus keracunan yang menimpa ratusan pelajar usai menyantap makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). Selain itu, operasional dapur SPPG juga disegel Badan Gizi Nasional (BGN).
Langkah tersebut dilakukan sebagai respons atas insiden yang menimpa pelajar dari tiga sekolah di Berastagi. BGN juga menelusuri untuk mengetahui penyebab gangguan kesehatan yang dialami para siswa.
Kepala BGN Sudaryono mengatakan, pencopotan kepala SPPG dan penyegelan dapur merupakan tindakan administratif yang dilakukan lembaganya setelah kejadian dugaan keracunan MBG tersebut.
“Tindakan administratif juga sudah diambil, pencopotan Kepala SPPG terkait dan penyegelan dapur operasional. BGN juga memastikan kondisi mereka (siswa) dan kemudian mencari akar persoalannya,” ujar Sudaryono dikutip dari akun Instagram resminya, Jumat (14/8/2026).
BGN juga berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Karo untuk menangani kejadian tersebut. Pemeriksaan sampel makanan dilakukan untuk mengetahui penyebab pasti para pelajar mengalami gangguan kesehatan.
“Saya telah berkoordinasi dengan Bupati Antonius Ginting, sementara pemeriksaan sampel sisa lauk pauk dilakukan bersama Dinas Kesehatan setempat,” ujarnya.
Sebelumnya, Dinas Kesehatan Sumatra Utara mencatat sebanyak 279 pelajar terdampak dugaan keracunan setelah mengonsumsi makanan dari program MBG hingga Kamis (13/8/2026). Para pelajar tersebut berasal dari tiga sekolah, yakni SMP Swasta Bersama, SMA Swasta Bersama, dan SMAN 1 Berastagi.
Sejumlah siswa harus mendapatkan perawatan medis di beberapa fasilitas kesehatan, yaitu RSU Kabanjahe, RS Efarina, dan RS Amanda.
Meski dapur MBG tersebut telah memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS), penyebab pasti kejadian masih belum diketahui. BGN bersama pihak terkait masih menunggu hasil pemeriksaan sampel sisa lauk pauk yang dikonsumsi para siswa untuk memastikan sumber dugaan keracunan.








