Alasan Pramono Bongkar Salah Satu JPO Love and Hate di Rasuna Said Jaksel

Alasan Pramono Bongkar Salah Satu JPO Love and Hate di Rasuna Said Jaksel

Terkini | inews | Senin, 10 Agustus 2026 - 06:00
share

JAKARTA, iNews.id - Gubernur Jakarta Pramono Anung memutuskan membongkar salah satu dari dua Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) yang berada di kawasan Rasuna Said, Jakarta Selatan. Keputusan itu diambil karena JPO lama dinilai tidak ramah terhadap penyandang disabilitas.

Dua JPO yang lokasinya berdekatan tersebut selama ini kerap disebut sebagai JPO 'Love and Hate' karena tidak saling terhubung. Pramono mengungkapkan keputusan pembongkaran itu setelah meninjau langsung kondisi kedua JPO.

Dia menjelaskan, kedua JPO sebenarnya memiliki fungsi yang sama, yakni sebagai fasilitas penyeberangan masyarakat sekaligus akses menuju transportasi publik.

"Tetapi setelah saya lihat sendiri, ini menunjukkan bahwa dulu dalam membuat kebijakan seringkali seperti yang saya katakan, ego pemimpinnya itu tidak dikomunikasikan secara baik. Sehingga sebenarnya dua-duanya ini fungsinya sama persis," ucap Pramono, dikutip Senin (10/8/2026).

JPO pertama merupakan milik Pemerintah Provinsi Jakarta yang dibangun lebih dahulu dan berfungsi sebagai fasilitas penyeberangan masyarakat umum. Sementara JPO kedua dibangun oleh LRT Jabodebek sebagai bagian dari fasilitas integrasi antarmoda yang menghubungkan Stasiun LRT Jabodebek dengan Halte TransJakarta.

Pramono menilai JPO milik Pemprov Jakarta memiliki desain yang sudah cukup lama dibandingkan JPO yang dibangun untuk integrasi LRT Jabodebek.

"Cuma yang satu yang dibuat oleh Pemerintah DKI Jakarta itu lebih lama (umurnya), kalau dilihat desainnya pasti desain tahun 80-an atau 90-an awal lah. Sementara yang oleh LRT dan juga KAI, ini yang lebih baru," kata dia.

Menurut Pramono, JPO lama memiliki persoalan utama dari sisi aksesibilitas. Fasilitas tersebut dinilai tidak ramah bagi penyandang disabilitas sehingga tidak memungkinkan untuk dipertahankan.

"Saya sudah memutuskan bahwa yang satu akan kita bongkar. Alasannya adalah karena yang satu itu betul-betul tidak ramah terhadap disabilitas," katanya.

Pramono juga menjelaskan alasan kedua JPO tidak dapat begitu saja disambungkan. Perbedaan ketinggian antara kedua jembatan cukup signifikan sehingga justru dapat menyulitkan penyandang disabilitas.

"Sehingga kalau kita sambungkan, ada beda tinggi yang cukup tinggi sehingga itu menyebabkan masyarakat yang menyandang disabilitas tidak bisa memanfaatkan lokasi atau tempat tersebut. Maka kami akan membongkar yang lama," sambungnya.

Dengan keputusan tersebut, JPO baru akan dipertahankan. Pemprov Jakarta juga akan melakukan perawatan serta meningkatkan fasilitas di JPO tersebut, termasuk memastikan fasilitas lift dapat digunakan dengan baik.

"Yang baru nanti sepenuhnya maintenance-nya kita perbaiki, kita permudah, termasuk lift dan sebagainya yang sudah ada kita lakukan pengecekan sehingga mudah-mudahan tidak lagi love and hate, love-nya satu saja, Love satu yang baru," ucapnya.

Topik Menarik