Iran Beri 6 Syarat kepada AS untuk Buka Selat Hormuz, Ini Daftarnya
TEHERAN, iNews.id - Iran memberi enam syarat kepada Amerika Serikat (AS) jika ingin Selat Hormuz dibuka kembali. Teheran menegaskan jalur perairan strategis dunia itu akan tetap ditutup sampai Washington mengubah kebijakan permusuhannya terhadap Iran dan memenuhi tuntutan yang diajukan.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohammad Bagher Zolghadr mengatakan, AS harus memperbaiki perilakunya terlebih dahulu sebelum pelayaran melalui Selat Hormuz dapat kembali dibuka. Salah satu syarat utama yang diajukan adalah AS mengakhiri ancaman terhadap Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei.
Berikut 6 syarat Iran kepada AS untuk membuka kembali Selat Hormuz mencakup:
Mengakhiri ancaman terhadap Mojtaba Khamenei.
Menghentikan secara permanen operasi militer terhadap Iran dan kelompok proksinya di kawasan.
Menarik pasukan angkatan laut dan angkatan udara AS yang terlibat dalam blokade terhadap Iran.
Memberikan ganti rugi atas kerusakan yang terjadi selama konflik.
Mencabut sanksi terhadap Iran.
Mencairkan aset Iran yang dibekukan.
Zolghadr menegaskan tuntutan tersebut bukan sekadar posisi pemerintah, melainkan mencerminkan kehendak rakyat Iran. Dia merujuk pada demonstrasi besar-besaran yang berlangsung selama enam hari terakhir sebagai salah satu dasar sikap Teheran.
"Dewan Keamanan Nasional Tertinggi tidak akan mundur dari tuntutan-tuntutan ini, baik dalam situasi perang maupun perundingan," ujar Zolghadr, seperti dikutip dari Anadolu, Minggu (9/8/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan ketika perundingan mengenai masa depan pelayaran melalui Selat Hormuz masih menemui jalan buntu. Selat tersebut merupakan salah satu jalur energi paling strategis di dunia karena menjadi lintasan penting bagi kapal-kapal pengangkut minyak dan komoditas energi.
Iran dan AS sebelumnya menandatangani nota kesepahaman (MoU) pada 17 Juni melalui mediasi Pakistan dan Qatar. Kesepakatan tersebut mengakhiri perang yang berlangsung sejak 28 Februari.
Namun, pelaksanaan MoU terhenti pada 7 Juli setelah Iran dan AS saling menuduh melanggar ketentuan kesepakatan. Salah satu persoalan paling krusial adalah status dan pengelolaan pelayaran melalui Selat Hormuz.









