China dan Rusia Minat Garap Proyek Kereta Trans Kalimantan, Pemerintah Siapkan Investasi

China dan Rusia Minat Garap Proyek Kereta Trans Kalimantan, Pemerintah Siapkan Investasi

Terkini | inews | Jum'at, 7 Agustus 2026 - 07:14
share

JAKARTA, iNews.id - Pemerintah menjajaki kerja sama dengan China dan Rusia untuk mengembangkan proyek Kereta Trans Kalimantan. Langkah ini menjadi tindak lanjut arahan Presiden guna mempercepat pembangunan jaringan perkeretaapian nasional melalui investasi.

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengatakan Kementerian Perhubungan telah berkoordinasi dengan PT Kereta Api Indonesia (KAI). Saat ini KAI menyiapkan roadmap pengembangan Kereta Trans Sumatra dan Kereta Trans Kalimantan sebagai acuan bagi calon investor dari dalam maupun luar negeri.

“Kita menindaklanjuti apa yang disampaikan Presiden. Kita sudah berkoordinasi dengan KAI. KAI sudah menyiapkan roadmap-nya, nanti kemudian dari situ kita berharap ada investasi baik dalam negeri maupun luar negeri untuk menggarap Trans Sumatra dan Trans Kalimantan,” ujar Dudy di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (6/8/2026).

Dudy menjelaskan pengembangan Kereta Trans Sumatra dinilai lebih siap karena sebagian jaringan rel sudah tersedia dan hanya memerlukan penyambungan pada sejumlah ruas yang belum terkoneksi. Sementara pembangunan Kereta Trans Kalimantan harus dimulai dari awal karena belum memiliki jaringan rel.

“Kalau Trans Sumatra kan sebagian sudah tersedia, tinggal kita sambung-sambungkan. Kalau Trans Kalimantan memang kita harus mulai dari nol,” katanya.

Menurut Dudy, pemerintah kembali membuka komunikasi dengan sejumlah negara yang sebelumnya pernah menunjukkan minat berinvestasi. China dan Rusia menjadi dua negara yang saat ini dijajaki untuk proyek Kereta Trans Kalimantan.

“Sudah kita jajaki dengan dalam negeri maupun dengan luar negeri, di antaranya China dan Rusia sudah kita jajaki. Kerja sama dengan Rusia kita buka kembali, kita jajaki kembali, termasuk dengan China,” ujarnya.

Meski demikian, pemerintah belum menetapkan nilai investasi proyek tersebut. Para calon investor masih menghitung kelayakan bisnis sebelum mengajukan proposal resmi.

“Belum ada angkanya. Kita juga harus lihat perhitungan bisnisnya mereka,” katanya.

Dudy mengatakan proyek yang lebih dahulu direalisasikan akan bergantung pada hasil kajian para investor. Menurut dia, PT KAI lebih tertarik mengembangkan Kereta Trans Sumatra karena potensi angkutan logistik yang sudah terbentuk. Sementara proyek Kereta Trans Kalimantan lebih banyak menarik minat investor dari China dan Rusia.

“Tergantung investornya tentunya, mana yang menurut mereka lebih feasible untuk mereka garap. Saya lihat kalau Sumatra logistiknya KAI lebih berminat untuk mengembangkannya. Kalau di Kalimantan sepertinya dari China maupun Rusia yang berminat,” kata Dudy.

Topik Menarik