Pemerintah Kirim 1.476 Akademisi ke 53 Kawasan Transmigrasi, Libatkan 10 Kampus
JAKARTA, iNews.id - Pemerintah melalui Kementerian Transmigrasi merekrut dan mengirim 1.476 akademisi yang tergabung dalam Tim Ekspedisi Patriot ke 53 kawasan transmigrasi untuk melakukan riset, kajian dan pendampingan ke masyarakat. Mereka berasal dari 10 perguruan tinggi terpilih.
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) Muhammad Qodari menjelaskan, penugasan ini merupakan kelanjutan dari program serupa pada 2025 yang menerjunkan 2.000 orang, dengan sebaran lokasi mulai dari Salor di Papua Selatan hingga Barelang di Kepulauan Riau.
“Melalui kolaborasi ini, negara hadir membangun kawasan transmigrasi lewat kekuatan ilmu pengetahuan, menggandeng akademisi dan mahasiswa terbaik bangsa sebagai mitra kerja di lapangan,” ujar Qodari dalam keterangannya, dikutip Rabu (5/8/2026).
Como Main di Liga Champions Musim Depan, Serius Kejar Bek Chelsea dan Gelandang Muda Italia
Dalam pelaksanaannya, pemerintah menggandeng 10 perguruan tinggi yaitu Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Universitas Gadjah Mada, Institut Teknologi Sepuluh November, Institut Pertanian Bogor, Universitas Diponegoro, Universitas Padjajaran, Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya dan Universitas Hasanuddin.
“Kemitraan ini merupakan kelanjutan dari Tim Ekspedisi Patriot 2025, dan pada tahun 2026 kemitraan ini bertambah Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, dan Universitas Hasanuddin,” kata Qodari.
Perguruan tinggi mitra membantu verifikasi administrasi, seleksi dan dukungan akademik bagi para peserta Tim Ekspedisi Patriot sebelum diberangkatkan. Kolaborasi tersebut berlanjut selama masa penugasan. Setiap kampus bertanggung jawab mendampingi kawasan yang menjadi lokasi risetnya, seperti Universitas Indonesia di Werianggi-Werabur dan ITB di Lereh, Papua.
Program ini diharapkan mampu menjadikan kawasan transmigrasi sebagai laboratorium riset terapan yang menghasilkan rekomendasi kebijakan nyata untuk perencanaan, pembangunan dan pengembangan kawasan yang diawasi langsung oleh akademisi.
Untuk 10 kawasan transmigrasi di Papua, negara memastikan penguatan pendampingan melalui penambahan jumlah tim yang diturunkan.
“Tim tersebut yakni 1.200 orang Tim Ekspedisi Patriot yang diterjunkan saat ini, sekaligus menjadi bentuk afirmasi nyata dari komitmen Presiden Prabowo dalam mempercepat pembangunan dan peningkatan kesejahteraan Papua,” kata Qodari.
Dia menegaskan, skema ini bukan pemerataan seragam ala program sosial biasa, melainkan penyesuaian berbasis kebutuhan riil 53 kawasan prioritas, dengan 11 tema riset spesifik mulai dari reforma agraria hingga hilirisasi dan energi terbarukan.
“Negara memastikan hasil riset Tim Ekspedisi Patriot menjadi bahan rekomendasi kebijakan yang ditindaklanjuti secara berkelanjutan, bukan proyek sekali jalan. Hasil-hasil riset akan menjadi pijakan bagi lahirnya kebijakan yang tepat sasaran, berdampak nyata, dan berkelanjutan bagi masyarakat,” katanya.










