Gianni Infantino Serang Pengkritik Piala Dunia 2026: Kalian Dikuasai Kebencian!
ZURICH, iNews.id – Gianni Infantino menyerang balik para pengkritik FIFA setelah Piala Dunia 2026 dibayangi kontroversi visa, keputusan disiplin Folarin Balogun, hingga dugaan intervensi politik.
Presiden FIFA tersebut menyampaikan pembelaan panjang melalui unggahan 15 slide di media sosial, Minggu (26/7/2026). Dia menuding sejumlah pihak lebih sibuk menyebarkan kebencian dan rumor palsu dibandingkan menikmati pesta sepak bola terbesar dunia.
“Kepada semua orang yang melewatkan pertandingan indah, emosi, perayaan, tawa, tangis, kekecewaan, dan kegembiraan, saya meminta maaf karena pertandingan kini telah berakhir. Saya juga meminta maaf karena kalian terlalu dikuasai kebencian dan kritik hingga melewatkan semuanya,” tulis Infantino.
Infantino juga menyentil media serta pihak yang melontarkan kritik dari balik layar. Dia mengeklaim FIFA berada di garis depan untuk bekerja, mengatur turnamen, berinteraksi dengan suporter, dan memastikan keselamatan seluruh pengunjung.
“Kepada mereka yang berada di balik pena, kertas, dan layar sambil menyebarkan kebencian serta rumor palsu, ketika kalian hanya duduk di belakang, kami di FIFA berada di garis depan untuk menyelenggarakan, bekerja keras, dan menghadirkan pertunjukan terbaik di dunia,” katanya.
Bela Masalah Visa dan Keputusan Balogun
Pernyataan keras Infantino muncul setelah FIFA dihujani kritik selama Piala Dunia 2026. Sorotan tertuju pada masalah visa, perlakuan terhadap delegasi Iran, penerapan jeda hidrasi, kedekatannya dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, serta perubahan format turnamen menjadi 48 tim.
Wasit asal Somalia Omar Abdulkadir Artan menjadi salah satu sosok yang gagal tampil setelah ditolak masuk ke Amerika Serikat meski dilaporkan memegang visa sah. Sejumlah anggota federasi Iran, jurnalis, dan suporter dari beberapa negara juga menghadapi masalah serupa.
Namun, Infantino meminta publik tidak hanya menyoroti orang-orang yang gagal mendapat visa. Dia menegaskan jutaan pengunjung lain berhasil memasuki negara tuan rumah dan menikmati pertandingan.
“Kalian menyebut sedikit orang yang ditolak visanya, tetapi mengabaikan jutaan orang dari seluruh penjuru dunia yang mendapat persetujuan. Sepak bola menyatukan dunia dan hal itu telah ditunjukkan dengan luar biasa pada musim panas ini,” ujar Infantino.
Dia turut menggunakan kehadiran Timnas Iran di Amerika Serikat sebagai bukti kekuatan sepak bola. Menurut Infantino, pertandingan mampu menyatukan masyarakat meski kedua negara sedang menghadapi ketegangan politik dan konflik.
Kasus lain yang memicu kemarahan adalah hukuman Folarin Balogun. Penyerang Amerika Serikat tersebut mendapat kartu merah saat menghadapi Bosnia dan Herzegovina pada 1 Juli 2026, tetapi pelaksanaan skorsing otomatis satu pertandingan ditangguhkan selama masa percobaan satu tahun. Dia juga dikenai denda 40.000 dolar AS atau sekitar Rp720,88 juta.
Keputusan tersebut membuat Balogun tetap dapat bermain melawan Belgia. Polemik semakin besar setelah muncul laporan mengenai komunikasi Donald Trump dengan Infantino terkait hukuman pemain Amerika Serikat tersebut.
Infantino tidak menyebut nama Balogun secara langsung dalam unggahannya. Namun, dia menyinggung keputusan wasit dan hukuman disiplin yang dianggap aneh oleh para pengkritik.
“Ketidakpuasan kalian terhadap beberapa keputusan otoritas berwenang dapat dipahami. Namun, keputusan wasit yang dapat diperdebatkan atau hukuman disiplin yang dianggap aneh merupakan hal rutin dan diterima secara luas di beberapa liga terbesar dunia,” katanya.
UEFA Sebut FIFA Lewati Garis Merah
UEFA memberikan respons keras terhadap penangguhan pelaksanaan skorsing Balogun. Otoritas sepak bola Eropa tersebut menyebut FIFA telah melewati garis merah dan menciptakan preseden berbahaya bagi integritas pertandingan.
UEFA menilai hukuman otomatis setelah kartu merah bukan keputusan yang dapat dikecualikan di tengah turnamen. Mereka menyebut langkah FIFA belum pernah terjadi sebelumnya, sulit dipahami, dan tidak dapat dibenarkan.
Federasi Sepak Bola Norwegia juga mendukung sikap UEFA. Presiden federasi, Lise Klaveness, kemudian menyatakan organisasinya akan mengajukan pengaduan resmi kepada Komite Etik FIFA terkait penanganan kasus Balogun dan dugaan campur tangan politik.
Meski diterpa kritik, Infantino menyebut Piala Dunia 2026 berlangsung dengan aman. Dia mengeklaim tujuh juta orang dari lebih dari 200 negara hadir di 16 kota penyelenggara tanpa kekerasan, permusuhan, maupun insiden besar.
“Kami mengalami nol kekerasan, nol insiden, keamanan 100 persen, serta hanya ada kegembiraan dan kebahagiaan,” tulisnya.
Infantino kemudian meminta orang-orang yang masih mengkritik FIFA untuk berhenti sejenak. Dia menyarankan mereka merenung, bermeditasi, berdoa, atau menonton pertandingan sepak bola daripada terus menghabiskan energi untuk membenci FIFA.
Kontroversi lain muncul saat surat Infantino kepada Federasi Sepak Bola Argentina bocor ke publik. Dalam surat tersebut, dia memuji profesionalisme Argentina meski FIFA sedang menyelidiki kericuhan seusai kekalahan dari Spanyol pada final Piala Dunia 2026.
Pernyataan panjang Infantino diperkirakan belum akan meredakan kritik. UEFA, federasi Norwegia, kelompok hak asasi manusia, dan sejumlah pendukung tetap menuntut transparansi terkait keputusan disiplin, kebijakan visa, serta hubungan FIFA dengan pemerintah negara tuan rumah.
Infantino menutup pesannya dengan menegaskan kebanggaannya memimpin FIFA. Dia menyebut Piala Dunia 2026 sebagai turnamen paling luar biasa dan meyakini sepak bola akan selalu berdiri lebih tinggi dibandingkan kebencian.
“Saya sangat bangga sebagai Presiden FIFA karena telah berkontribusi, meski hanya sedikit, terhadap pertunjukan ini. Ini perasaan yang luar biasa,” ucapnya.









