Studi UGM: Vaksin DBD Berpotensi Turunkan Kasus Rawat Inap dan Kematian

Studi UGM: Vaksin DBD Berpotensi Turunkan Kasus Rawat Inap dan Kematian

Gaya Hidup | inews | Jum'at, 24 Juli 2026 - 16:21
share

JAKARTA, iNews.id – Vaksinasi dengue atau demam berdarah dengue (DBD) dinilai berpotensi menjadi salah satu langkah penting dalam menekan beban penyakit di Indonesia. 

Hasil studi pemodelan yang dilakukan peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) menunjukkan bahwa penerapan vaksinasi dengue dapat berkontribusi menurunkan jumlah kasus bergejala, rawat inap, hingga kematian akibat penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti.

Temuan tersebut dipaparkan Guru Besar Departemen Farmakologi dan Terapi Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM, Prof. Dr. Jarir At Thobari, D.Pharm., Ph.D., dalam Jakarta Dengue Forum yang digelar PT Takeda Innovative Medicines bersama Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Cabang DKI Jakarta.

Prof. Jarir menjelaskan, berdasarkan skenario pemodelan ekonomi kesehatan yang dipresentasikan pada 9th Asia Dengue Summit 2026 di Singapura, implementasi vaksinasi dengue di Indonesia diproyeksikan mampu menurunkan kasus dengue bergejala, angka rawat inap, hingga kematian selama periode 20 tahun.

Selain itu, vaksinasi juga diperkirakan mampu mengurangi beban penyakit sebesar 1,1–1,3 juta Disability-Adjusted Life Years (DALY). DALY merupakan indikator yang digunakan untuk mengukur hilangnya tahun kehidupan sehat akibat penyakit, kecacatan, maupun kematian dini.

"Kajian ini menunjukkan pentingnya melihat manfaat pencegahan secara lebih menyeluruh. Dari perspektif pembayar layanan kesehatan, vaksinasi dengue diproyeksikan memberikan manfaat kesehatan yang sebanding dengan biaya yang dikeluarkan," ujar Prof. Jarir.

Menurut dia, jika dilihat dari perspektif masyarakat, manfaat vaksinasi bahkan diperkirakan lebih besar karena tidak hanya memperhitungkan biaya pelayanan kesehatan, tetapi juga biaya yang harus ditanggung keluarga, kehilangan produktivitas, serta dampak ekonomi lain yang muncul akibat infeksi dengue.

"Berdasarkan hasil pemodelan, implementasi vaksinasi dengue berpotensi menghasilkan penghematan biaya sebesar 329–731 juta dolar AS atau sekitar Rp5,2–11,5 triliun selama 20 tahun," jelasnya. 

Dia menambahkan, "Temuan ini menunjukkan bahwa investasi pada pencegahan penyakit tidak hanya berpotensi meningkatkan kesehatan masyarakat, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi yang signifikan dalam jangka panjang."

Dengue Masih Menjadi Beban Besar

Kajian tersebut muncul di tengah masih tingginya beban dengue di Indonesia. Berdasarkan studi terbaru Pusat Kebijakan Pembiayaan dan Manajemen Asuransi Kesehatan FK-KMK UGM, total beban ekonomi akibat dengue pada 2024 diperkirakan mencapai 550,9 juta dolar AS atau hampir Rp9 triliun, dengan lebih dari 2 juta kasus rawat inap.

Penelitian itu juga menemukan bahwa kepemilikan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) belum sepenuhnya menghilangkan beban finansial pasien. Peserta JKN masih harus mengeluarkan biaya mandiri untuk kebutuhan nonmedis, seperti transportasi dan akomodasi pendamping, serta menghadapi kehilangan pendapatan akibat tidak dapat bekerja selama masa perawatan.

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof. Dr. dr. Sri Rezeki Hadinegoro, Sp.A(K), mengatakan dampak dengue tidak hanya dirasakan dari sisi kesehatan, tetapi juga sosial dan ekonomi keluarga.

"Pada saat salah satu anak terserang infeksi dengue dan perlu perawatan di rumah sakit, maka orang tua harus mendampingi sehingga kehilangan waktu untuk bekerja dan mengurangi produktivitas. Demikian pula jika orang tua yang sakit, keluarga harus merawat dan dapat mengganggu suasana dan ekonomi keluarga," ungkap Prof Sri. 

"Selain biaya perawatan dan pengobatan, dampak lain yang tidak tampak adalah terganggunya produktivitas, apalagi pemulihan dari infeksi dengue memerlukan waktu sekitar satu hingga dua minggu," sambungnya. 

Pencegahan Dengue Harus Komprehensif

Prof. Sri menegaskan bahwa pengendalian dengue tidak bisa lagi hanya mengandalkan upaya konvensional seperti 3M Plus. Menurutnya, diperlukan pendekatan yang lebih menyeluruh melalui kolaborasi berbagai pihak.

"Menghadapi ancaman penyakit dengue yang begitu berat dan meluas, kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan satu atau dua upaya pencegahan konvensional seperti 3M Plus. Kita membutuhkan sesuatu yang komprehensif," kata Prof Sri. 

"Perlu ada sinergi kuat yang mengintegrasikan pengendalian vektor nyamuk, penguatan diagnosis dini di fasilitas kesehatan, serta adopsi intervensi medis yang inovatif seperti vaksinasi. Hanya melalui upaya komprehensif inilah kita dapat membangun perlindungan yang kuat bagi anak-anak dan masyarakat luas dari dengue," tambahnya.

Para ahli berharap hasil kajian tersebut dapat menjadi salah satu bahan pertimbangan dalam memperkuat strategi pencegahan dengue di Indonesia. Dengan pendekatan yang komprehensif, beban kesehatan maupun ekonomi akibat penyakit ini diharapkan dapat ditekan secara berkelanjutan.

Topik Menarik