Tempo Scan Gandeng Raksasa Farmasi China Bentuk Joint Venture, Perluas Akses Obat Bioteknologi di Indonesia

Tempo Scan Gandeng Raksasa Farmasi China Bentuk Joint Venture, Perluas Akses Obat Bioteknologi di Indonesia

Gaya Hidup | inews | Jum'at, 24 Juli 2026 - 15:07
share

JAKARTA, iNews.id – PT Tempo Scan Pacific Tbk resmi menjalin kerja sama strategis dengan Chia Tai Tianqing Pharmaceutical Group Co., Ltd (CTTQ), anak perusahaan Sino Biopharmaceutical Limited, melalui pembentukan perusahaan patungan (joint venture) PT Tempo CTTQ Biopharmaceutical Indonesia (TCBI). 

Kemitraan ini diharapkan memperluas akses masyarakat Indonesia terhadap obat-obatan bioteknologi modern sekaligus memperkuat industri farmasi nasional.

Peresmian sekaligus penandatanganan kerja sama tersebut berlangsung di Tempo Scan Tower, Jakarta, Jumat (24/7/2026). Acara ini dihadiri Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar, Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni Raffi Ahmad, serta Co-CEO MNC Group Angela Tanoesoedibjo.

Angela Tanoesoedibjo menghadiri peresmian joint venture Tempo Scan dan Raksasa Farmasi China. (Foto: Aldhi Chandra)

Dalam skema joint venture tersebut, Sino Biopharmaceutical melalui CTTQ menjadi pemegang saham mayoritas dengan kepemilikan 51 persen, sementara Tempo Scan menguasai 49 persen saham PT Tempo CTTQ Biopharmaceutical Indonesia.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan investasi di sektor manufaktur biofarmasi merupakan langkah penting untuk memperkuat kemandirian industri kesehatan Indonesia. Menurutnya, fasilitas produksi dalam negeri akan difokuskan untuk memenuhi kebutuhan obat bagi berbagai penyakit prioritas.

"Diharapkan mendorong produk bio untuk penyakit prioritas," ujar Airlangga.

Ia menambahkan, produksi lokal juga berpotensi menekan harga obat bioteknologi sehingga terapi modern dapat dijangkau lebih banyak masyarakat. Bahkan, obat-obatan tersebut diharapkan nantinya dapat masuk ke dalam skema pembiayaan BPJS Kesehatan.

"Harganya bisa ditekan dan diakses sistem BPJS," katanya.

Sementara itu, Executive Chairman and Co-Founder Tempo Scan Group Handojo S. Muljadi menjelaskan bahwa pembentukan perusahaan patungan dipilih sebagai bentuk komitmen jangka panjang kedua perusahaan, bukan sekadar kerja sama distribusi atau lisensi produk.

Menurut Handojo, Tempo Scan dan CTTQ juga telah menyiapkan peta jalan alih teknologi (technology transfer) secara berkelanjutan agar Indonesia memiliki kemampuan memproduksi obat-obatan bioteknologi secara mandiri.

"Joint venture berwawasan jangka panjang," ujar Handojo.

Ia menilai kolaborasi ini akan meningkatkan persaingan di industri farmasi, khususnya untuk produk specialty pharmaceutical berkualitas tinggi. Dampaknya, harga terapi modern, termasuk untuk pengobatan kanker, diharapkan menjadi lebih terjangkau.

Handojo mengungkapkan, Indonesia mencatat hampir 500 ribu kasus kanker setiap tahun. Karena itu, kehadiran produk bioteknologi yang berkualitas dan kompetitif menjadi kebutuhan penting bagi masyarakat.

"Pasien mendapat akses produk berkualitas dan terpercaya," ucapnya.

Menurut Handojo, pandemi COVID-19 juga menjadi pelajaran berharga mengenai pentingnya membangun ketahanan rantai pasok industri farmasi. Oleh sebab itu, penguatan kapasitas produksi dalam negeri menjadi langkah strategis agar Indonesia tidak terlalu bergantung pada produk impor.

Melalui PT Tempo CTTQ Biopharmaceutical Indonesia, Tempo Scan dan CTTQ menargetkan peluncuran berbagai produk specialty pharmaceutical dan innovative medicine secara bertahap dalam beberapa tahun ke depan. Produk-produk tersebut meliputi obat yang telah memperoleh persetujuan maupun yang masih menjalani proses registrasi di BPOM dan BPJS Kesehatan.

Kolaborasi ini diharapkan menjadi tonggak penting dalam pengembangan industri biofarmasi nasional, sekaligus membuka akses yang lebih luas bagi masyarakat Indonesia terhadap terapi modern dengan kualitas global.

Topik Menarik