Perang Makin Sengit! Rudal Iran Mulai Tembus Sistem Pertahanan AS, Pangkalan Porak-poranda
WASHINGTON, iNews.id - Militer Amerika Serikat (AS) kebobolan serangan rudal Iran, menyebabkan korban jiwa di kalangan prajurit. Serangan Iran terhadap Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di Yordania pada Jumat pekan lalu menjadi sorotan karena merenggut tiga nyawa dan melukai empat orang, bahkan ada laporan menyebutkan puluhan orang.
Dua korban tewas telah teridentifikasi, sementara satu personel tentara AS yang hilang dinyatakan meninggal akibat serangan rudal balistik tersebut.
CBS News melaporkan, kemampuan rudal Iran yang lebih canggih dari sebelumnya menimbulkan masalah bagi militer AS di Timur Tengah.
Ini berarti pertahanan udara AS serta negara sekutunya gagal mencegatnya atau mendeteksinya tepat waktu.
Menteri Luar Negeri (Menlu) AS Marco Rubio mengatakan, Satu rudal Iran lolos dari pencegatan.
"Sebuah rudal berhasil lolos. Kami menembak jatuh hampir semua rudal. Satu rudal luput, ini sangat menyedihkan," ujarnya.
Laporan CBS News menyebutkan, serangan Iran tersebut bukan insiden terisolasi. Pangkalan militer AS yang sama telah diserang dua kali dalam 48 jam saat itu. Serangan tersebut melukai puluhan personel.
Rudal berpemandu presisi Iran berulang kali menembus sistem pertahanan rudal Yordania dan AS.
Juru Bicara Komando Pusat AS (Centcom) Tim Hawkins mengeklaim pasukannya dan sekutunya telah mencegat puluhan rudal dan drone Iran ke negara-negara Teluk sejak 17 Juli. Meski demikian dia mengakui tak semua bisa dicegat.
Sementara itu Presiden AS Donald Trump menyalahkan pihak lain yang membuat rudal Iran bisa lolos atau bahkan tak terdeteksi. Trump menyebut ada operator lain di pangkalan udara yang membiarkannya lolos.
"Mereka (Iran) memang menyelundupkan sesuatu di Yordania, dan kita ada operator lain," ujarnya, menuduh ada musuh dalam selimut.
Trump mengeklaim AS memiliki peralatan tempur terbaik di dunia yang bisa mencegat berbagai jenis rudal musuh. Namun peralatan militer terbaik itu tak dioperasikan oleh personel AS.
"Kita membiarkan orang lain melakukan tugas itu dan terkadang hasilnya tidak begitu baik," kata Trump, tanpa menyebut siapa operator yang dimaksud.
Sementara itu Departemen Pertahanan (Pentagon) mengonfirmasi hampir 100 personel militer AS luka dalam serangan Iran di seluruh Timur Tengah sepanjang bulan ini, belum termasuk serangan mematikan terbaru di Yordania.
Seorang pengamat militer Yordania yang juga perwira mantan pejabat tinggi Qasid Mahmoud mengaitkan efektivitas serangan Iran dengan peningkatan teknologi rudal.
"Iran memiliki teknologi rudal yang canggih," katanya, seraya menambahkan mereka menggabungkan rudal dan drone secara bersamaan untuk mengelabui pertahanan udara.
Selain itu, lanjut Mahmoud, Iran menggunakan rudal murah sebagai pengalih perhatian radar. Setelah itu menembakkan rudal berkualitas lebih baik yang mampu mengubah target akhir dalam jarak 30 atau 40 km.
Perubahan lintasan di menit-menit terakhir itu membuat sistem pertahanan sulit mencegatnya.










