Bobot Lebih Berat dari Kendaraan Biasa, Mobil Listrik Rusak Jalan di China 

Bobot Lebih Berat dari Kendaraan Biasa, Mobil Listrik Rusak Jalan di China 

Otomotif | inews | Selasa, 21 Juli 2026 - 20:38
share

JAKARTA, iNews.id - Pertumbuhan pesat kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di China membawa dampak terhadap infrastruktur. Meningkatnya penggunaan SUV dan MPV listrik berukuran besar dengan bobot mencapai tiga ton membuat jalan-jalan mengalami kerusakan lebih cepat, sementara pemerintah menghadapi tantangan pendanaan untuk biaya perbaikannya.

Data Asosiasi Mobil Penumpang China menunjukkan sekitar 60 persen mobil baru yang diluncurkan pada paruh pertama tahun ini memiliki panjang lebih dari 5 meter. Tren tersebut didorong meningkatnya permintaan konsumen terhadap kendaraan listrik premium dengan dimensi lebih besar.

Sebaliknya, mobil berukuran kecil semakin ditinggalkan. Pangsa model dengan panjang di bawah 4,5 meter kini hanya sekitar 2 persen, turun drastis dibandingkan 13 persen pada periode yang sama tahun lalu.

Selain berukuran besar, banyak kendaraan listrik terbaru memiliki bobot jauh lebih berat dibanding mobil bermesin pembakaran internal. Beberapa model bahkan memiliki berat hingga tiga ton akibat penggunaan paket baterai berkapasitas besar.

Kondisi tersebut mempercepat kerusakan permukaan jalan, terutama pada ruas yang memiliki lalu lintas padat. Di sisi lain, pemerintah daerah justru kehilangan salah satu sumber utama pembiayaan pemeliharaan jalan.

Selama ini, biaya perawatan jalan sebagian besar berasal dari penerimaan pajak bahan bakar. Namun, semakin banyak masyarakat beralih ke kendaraan listrik membuat penerimaan tersebut terus menurun.

Menurut laporan Bloomberg, China menghadapi kekurangan dana sekitar 50 persen untuk kebutuhan pemeliharaan dan pengelolaan jalan setiap tahun. Penelitian unit riset Kementerian Transportasi China juga menemukan sekitar 40 persen proyek perbaikan jalan lokal telah disetujui, tetapi belum dapat dikerjakan karena keterbatasan anggaran.

Nilai kekurangan pendanaan tersebut diperkirakan mencapai 300 miliar yuan atau sekitar 44 miliar dolar Amerika Serikat per tahun.

Menghadapi kondisi tersebut, pemerintah China mulai mempertimbangkan berbagai skema pendanaan baru. Salah satu opsi yang sedang dikaji adalah penerapan biaya penggunaan jalan berdasarkan jarak tempuh kendaraan atau road user charge.

Selain itu, pemerintah juga mulai mengurangi berbagai insentif pajak untuk kendaraan energi baru (NEV). Potongan pajak penjualan yang sebelumnya lebih besar kini dipangkas menjadi maksimal 5 persen dengan batas potongan hingga 15.000 yuan.

Tak hanya itu, pembebasan pajak tahunan kendaraan dan kapal untuk kendaraan listrik murni maupun plug-in hybrid (PHEV) juga akan dihapus secara bertahap.

Sejumlah daerah bahkan telah melakukan uji coba sistem baru. Provinsi Hainan, misalnya, menjalankan program percontohan yang memanfaatkan teknologi navigasi satelit untuk melacak pergerakan kendaraan. Data tersebut nantinya dapat digunakan sebagai dasar penerapan pajak berdasarkan jarak tempuh yang disesuaikan dengan jenis dan kelas kendaraan.

Pemerintah China juga berupaya menekan tren kendaraan yang semakin besar. Regulasi mengenai konsumsi energi kini memberikan penalti terhadap mobil penumpang yang memiliki bobot terlalu berat.

Kebijakan tersebut diharapkan mendorong produsen mengembangkan kendaraan yang lebih ringan melalui penggunaan material modern dan desain aerodinamis, bukan sekadar memasang baterai berkapasitas lebih besar untuk meningkatkan jarak tempuh.

Topik Menarik