Pierluigi Collina Bocorkan Alasan Pilih Slavko Vincic Pimpin Final Piala Dunia 2026
NEW YORK, iNews.id – Pierluigi Collina akhirnya angkat bicara mengenai alasan penunjukan wasit untuk partai final.
Collina menyampaikan penjelasan tersebut dalam wawancara dengan Gazzetta dello Sport yang dirilis bertepatan dengan hari final Piala Dunia 2026 antara Spanyol dan Argentina.
Legenda wasit asal Italia itu memiliki pengalaman memimpin pertandingan-pertandingan besar, termasuk final Piala Dunia 2002 saat Brasil mengalahkan Jerman 2-0 melalui dua gol Ronaldo.
Untuk final Piala Dunia 2026, Collina menunjuk wasit asal Slovenia, Slavko Vincic. Dia mengakui proses menentukan sosok yang memimpin pertandingan puncak tidak berlangsung mudah.
"Dia menjalani perjalanan yang sangat baik. Saya senang untuk dia, sama seperti saya senang untuk wasit lainnya yang berada di sini. Membuat pilihan bukanlah hal yang mudah," kata Collina.
Collina mengungkap Vinčić bahkan menangis saat menerima kabar dirinya dipercaya memimpin final Piala Dunia 2026.
"Setiap kali melihat momen seperti itu, saya merinding. Saya tahu apa yang telah dilakukan para wasit pria dan wanita selama bertahun-tahun. Mereka telah banyak berkorban, termasuk bersama keluarga mereka. Saya memahami emosi Vinčić karena saya juga pernah mengalaminya," ujarnya.
Collina Bela VAR dan Teknologi FIFA
Dalam kesempatan yang sama, Collina juga menjelaskan pentingnya penggunaan teknologi VAR dalam sepak bola modern. Menurutnya, teknologi hadir untuk membantu wasit mengambil keputusan yang benar.
"Teknologi diperkenalkan untuk menyelesaikan situasi yang paradoks. Di stadion, lebih dari 80.000 penonton bisa melihat apa yang terjadi secara langsung, tetapi satu-satunya orang yang tidak bisa melihatnya adalah orang yang harus mengambil keputusan," kata Collina.
Dia menjelaskan ada dua pilihan dalam sepak bola modern. Pertama, melarang seluruh teknologi di stadion, atau memberikan akses teknologi yang sama kepada wasit agar keputusan yang diambil lebih akurat.
Collina menambahkan perkembangan teknologi sangat membantu proses persiapan pertandingan. Dia mencontohkan perubahan besar sejak final Piala Dunia 2002 hingga saat ini, termasuk kehadiran FIFA AI Pro yang dikembangkan bersama Lenovo untuk mendukung analisis pertandingan.
Salah satu kontroversi terbesar di Piala Dunia 2026 terjadi pada laga perempat final Inggris melawan Norwegia. Saat itu, gol penyama kedudukan Inggris diperdebatkan karena bola diduga mengenai kabel kamera sebelum berubah arah.
Collina membantah anggapan tersebut. Menurutnya, seluruh data dari sensor bola menunjukkan tidak ada kontak antara bola dan kabel.
"Sungguh luar biasa masih ada orang yang tidak percaya kalau bola tidak menyentuh kabel. Grafik menunjukkan setiap kali pemain atau benda menyentuh bola akan muncul lonjakan. Dalam kejadian itu grafik tetap datar sejak kiper melepaskan bola hingga dikontrol pemain berikutnya. Hanya ada sedikit gelombang yang berasal dari hembusan udara. Putaran bola juga tetap sama dan kamera tidak bergerak. Ada perangkat teknologi yang mampu menjelaskan hal-hal seperti ini," tegasnya.
Teknologi sensor bola juga digunakan saat Portugal mengalahkan Kroasia 2-1. Ketika Kroasia mencetak gol penyeimbang pada menit-menit akhir, gol tersebut dianulir karena offside setelah data sensor memperlihatkan urutan sentuhan bola secara akurat.
"Grafiknya sangat jelas. Ada lonjakan saat bola menyentuh kepala penyerang Kroasia, kemudian garis datar, lalu muncul lonjakan lain saat mengenai punggung bek Portugal. Sistem memang tidak mendeteksi sentuhan rambut sehingga lonjakan berasal dari kontak dengan kepala," jelas Collina.
Menutup penjelasannya, Collina menegaskan penggunaan VAR dan teknologi tidak menghilangkan emosi dalam sepak bola. Menurut dia, justru keputusan yang benar membuat hasil pertandingan lebih adil dan menghindari perdebatan yang bisa berlangsung selama bertahun-tahun.
"Itu tidak benar secara historis. Dalam situasi offside memang ada beberapa detik menunggu konfirmasi, tetapi pemain tetap merayakan gol. Jika gol disahkan, ada perayaan kedua. Jika dianulir, tim lawan yang merayakannya. Jauh lebih adil jika emosi dibangun di atas keputusan yang benar daripada insiden yang diperdebatkan selama berminggu-minggu atau puluhan tahun. Bahkan hingga sekarang, enam puluh tahun kemudian, orang masih memperdebatkan apakah bola benar-benar melewati garis gawang pada final Piala Dunia 1966."










