Dewan Eropa Tuding FIFA Buka Pintu Kecurangan
Menjelang berakhirnya Piala Dunia 2026,FIFA menghadapi kritik tajam dari Dewan Eropa. Sekretaris Jenderal Dewan Eropa, Alain Berset, menuding badan sepak bola dunia itu telah membuka "pintu bagi kecurangan" dalam dunia taruhan olahraga dan membiarkan campur tangan politik mencederai integritas turnamen.
Dalam surat terbuka yang dirilis bertepatan dengan laga final, Berset mendesak FIFA segera membangun kerangka integritas baru sebelum Piala Dunia 2030 yang sebagian besar akan digelar di Eropa. Menurutnya, berbagai kontroversi sepanjang Piala Dunia 2026 telah memunculkan krisis kepercayaan terhadap tata kelola sepak bola dunia.
"Piala Dunia FIFA 2026 telah menimbulkan pertanyaan demi pertanyaan," tulis Berset dikutip dari Guardian, Senin (20/7/2026).
Baca Juga:Final Piala Dunia 2026: Ribuan Suporter Terjebak Antrean
Ia menyoroti sejumlah isu yang dinilai mencoreng turnamen, mulai dari penangguhan sanksi yang disebut dilakukan di bawah tekanan, otoritas wasit yang dipertanyakan, kasus pelecehan rasial terhadap pemain, hingga maraknya praktik taruhan yang kini tidak hanya mencakup hasil pertandingan, tetapi juga setiap detail kecil dalam laga. "Perayaan akan berakhir malam ini. Pertanyaan-pertanyaan tidak akan berakhir," tegasnya.Kritik tersebut menjadi perhatian besar karena FIFA dan Dewan Eropa sebenarnya telah menjalin nota kesepahaman sejak 2018 untuk memperkuat kerja sama di bidang hak asasi manusia, integritas, dan tata kelola olahraga. Kritik terbuka dari Dewan Eropa terhadap FIFA merupakan sesuatu yang sangat jarang terjadi.
Soroti Kemitraan Taruhan FIFA
Berset juga mengkritik kerja sama FIFA dengan ADI Predictstreet yang pada April lalu ditunjuk sebagai mitra resmi pasar prediksi Piala Dunia 2026.Menurutnya, perkembangan pasar taruhan kini memungkinkan orang bertaruh pada berbagai momen kecil dalam pertandingan, seperti jumlah operan, kartu, atau tendangan sudut, tanpa harus menebak hasil akhir laga.
"Taruhan kini bergeser dari hasil pertandingan ke momen-momen yang dapat diciptakan seorang pemain tanpa mengubah skor. Ini adalah pintu terbuka bagi penipuan, dan Piala Dunia ini telah membuka pintu itu lebih lebar," ujar Berset.
Baca Juga:Kisah Ghetto Kids: Dari Gang Sempit Kampala ke Panggung Piala Dunia dan Berduet dengan Shakira
Dalam suratnya, Berset juga menyinggung keputusan FIFA yang menunda sanksi terhadap penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun. Keputusan tersebut menjadi kontroversial setelah muncul laporan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump sempat menghubungi Presiden FIFA Gianni Infantino sebelum hukuman Balogun ditangguhkan."Ketika aturan dapat diubah di bawah tekanan, maka setiap hasil pertandingan akan selalu dipertanyakan," tulis Berset.
FIFA sebelumnya membantah adanya intervensi politik. Infantino menegaskan keputusan pencabutan sanksi Balogun sepenuhnya diambil oleh Komite Disiplin FIFA berdasarkan regulasi yang berlaku dan fakta-fakta dalam kasus tersebut.
Berset mengajak FIFA memulai dialog untuk memperkuat sistem integritas sepak bola sebelum Piala Dunia 2030. Ia mencontohkan peran Dewan Eropa dalam menyusun berbagai konvensi internasional mengenai keselamatan suporter, pemberantasan doping, hingga pencegahan pengaturan skor pertandingan.
Surat terbuka tersebut muncul hanya beberapa hari setelah 72 anggota parlemen Eropa mengirim surat kepada 27 federasi sepak bola anggota Uni Eropa. Mereka meminta penyelidikan terhadap dugaan pelanggaran netralitas politik FIFA dalam kasus Balogun dan menilai organisasi itu berpotensi melanggar kode etiknya sendiri.
Di tengah derasnya kritik, posisi Gianni Infantino sebagai Presiden FIFA masih tergolong kuat. Pekan lalu terungkap bahwa lebih dari 200 asosiasi anggota FIFA telah menyatakan dukungan terhadap pencalonannya untuk masa jabatan keempat pada pemilihan presiden FIFA yang dijadwalkan berlangsung pada Maret mendatang.










