Banyak Remaja Indonesia Terdeteksi Gangguan Mental, Kemenkes Bongkar Datanya!
JAKARTA, iNews.id - Gangguan kesehatan mental pada remaja Indonesia menjadi salah satu temuan yang paling disorot dalam Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) Kementerian Kesehatan (Kemenkes).
Hasil skrining terbaru menunjukkan gejala depresi mulai banyak ditemukan sejak usia sekolah menengah pertama (SMP) dan angkanya meningkat pada kelompok sekolah menengah atas (SMA).
Temuan tersebut berasal dari pelaksanaan CKG yang hingga 5 Juli 2026 telah diikuti sekitar 59,6 juta masyarakat. Berdasarkan pemetaan hasil skrining, Kemenkes menemukan bahwa masalah kesehatan yang dialami anak berubah seiring bertambahnya usia.
Pada kelompok anak sekolah dasar (SD), persoalan kesehatan masih didominasi oleh karies gigi, hipertensi, gangguan status gizi, serta gangguan pendengaran dan penglihatan.
Namun, memasuki usia SMP, pola tersebut mulai bergeser. Selain karies gigi yang masih menjadi masalah utama, kelompok usia ini mulai menunjukkan gejala gangguan kesehatan jiwa berupa depresi. Kondisi tersebut juga disertai risiko tuberkulosis (TBC), hipertensi, dan gangguan status gizi.
Yang lebih mengkhawatirkan, pada kelompok SMA angka gangguan mental dan depresi ditemukan semakin meningkat. Di saat yang sama, remaja juga menghadapi persoalan kesehatan lain seperti karies gigi, hipertensi, risiko TBC, hingga obesitas.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan bahwa hasil CKG memberikan gambaran yang jauh lebih jelas mengenai persoalan kesehatan masyarakat di setiap kelompok usia. Dengan data tersebut, pemerintah dapat menyusun intervensi yang lebih tepat sasaran, termasuk dalam penanganan kesehatan mental remaja.
"Sekarang kami memiliki data kesehatan masyarakat yang jauh lebih lengkap. Kita tahu masalah kesehatan anak SD berbeda dengan anak SMP maupun SMA," ujar Menkes Budi dalam siaran persnya, dikutip Jumat (17/7/2026).
"Dengan data ini, intervensi pemerintah menjadi lebih tepat sasaran sehingga sumber daya kesehatan dapat digunakan secara lebih efektif," tambahnya.
Temuan ini memperkuat hasil skrining CKG sebelumnya yang juga menunjukkan masalah kesehatan jiwa pada anak dan remaja merupakan persoalan yang perlu mendapat perhatian serius. Pada skrining terhadap sekitar 7 juta anak, Kemenkes mendeteksi gejala depresi pada sekitar 4,8 persen anak dan gejala kecemasan pada 4,4 persen anak.
Pemerintah menilai deteksi dini menjadi langkah penting agar anak dan remaja yang berisiko dapat segera memperoleh pendampingan maupun penanganan profesional.
Kemenkes juga menilai kesehatan mental remaja tidak hanya dipengaruhi oleh faktor individu, tetapi juga lingkungan keluarga, sekolah, dan pergaulan. Karena itu, upaya pencegahan tidak cukup hanya melalui layanan kesehatan, melainkan membutuhkan keterlibatan orang tua, guru, hingga masyarakat.
Melalui Program Cek Kesehatan Gratis, pemerintah berharap berbagai masalah kesehatan, termasuk gangguan mental pada remaja, dapat terdeteksi lebih dini sehingga penanganan dapat dilakukan sebelum berkembang menjadi kondisi yang lebih berat.
Selain memetakan kondisi kesehatan masyarakat, Kemenkes saat ini juga mulai mengembangkan Program CKG ke tahap tatalaksana atau pengobatan, sehingga peserta yang terdiagnosis penyakit dapat memperoleh layanan kesehatan lanjutan sesuai kebutuhannya.
"Tujuan kami bukan sekadar mengumpulkan data siapa yang sakit, tetapi memastikan masyarakat kami tetap sehat, bugar, dan produktif. Cek Kesehatan Gratis ini adalah investasi jangka panjang untuk masa depan bangsa," ungkap Menkes Budi.










