Karhutla Palangka Raya Meningkat, Helikopter BNPB Lakukan Water Bombing
PALANGKA RAYA, iNews.id - Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) mulai meningkat saat memasuki musim kemarau di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah (Kalteng). Sebanyak 15 kasus tercatat terjadi sejak status siaga karhutla ditetapkan pada 1 Juni 2026.
Kebakaran terbaru terjadi di Jalan Danau Rangas, Kelurahan Bukit Tunggal, Kecamatan Jekan Raya, Minggu (12/7/2026). Api membakar lahan gambut yang dipenuhi semak belukar kering dan sisa tebangan pohon.
Material yang mudah terbakar membuat kobaran api dengan cepat menjalar ke area yang lebih luas. Asap pekat juga terlihat menyelimuti sebagian lokasi kebakaran.
Tim gabungan langsung dikerahkan untuk mencegah api semakin meluas. Proses pemadaman dilakukan melalui jalur darat dan udara dengan melibatkan helikopter milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Pemadaman dari udara dilakukan dengan metode water bombing. Helikopter berulang kali menjatuhkan air ke titik-titik api yang sulit dijangkau petugas melalui jalur darat.
Sementara itu, pemadaman darat melibatkan BPBD Kota Palangka Raya, BPBD Provinsi Kalimantan Tengah, TNI, Polri, Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Tengah, serta sejumlah kelompok masyarakat.
Tim Serbu Api Kelurahan (TSAK) Bukit Tunggal dan Masyarakat Peduli Api (MPA) Petuk Katimpun juga ikut membantu proses pemadaman serta pembasahan lahan gambut.
Pelaksana Tugas Kepala BPBD Kota Palangka Raya Hendrikus Satria Budi mengatakan, jumlah kejadian karhutla terus bertambah sejak pemerintah daerah menetapkan status siaga.
"Berdasarkan data, sejak status Siaga Karhutla ditetapkan oleh Wali Kota pada 1 Juni 2026, tercatat sudah 15 kejadian kebakaran hutan dan lahan. Kelurahan Bukit Tunggal menjadi wilayah dengan kejadian terbanyak, yaitu 10 kejadian dengan total luas lahan terbakar lebih dari 10 hektare," ujar Hendrikus Senin (13/7/2026).
Dari 15 kejadian tersebut, sebanyak 10 kebakaran terjadi di Kelurahan Bukit Tunggal. Total lahan yang terbakar di wilayah itu telah mencapai lebih dari 10 hektare.
BPBD menduga sebagian kebakaran dipicu oleh aktivitas manusia, baik karena unsur kesengajaan maupun kelalaian saat membersihkan lahan.
"Kejadian pembakaran ini bisa terjadi karena ulah manusia, oknum," katanya.
Hendrikus mengingatkan masyarakat agar tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara dibakar. Kondisi lahan gambut yang kering membuat api mudah menyebar dan sulit dipadamkan hingga ke bagian bawah permukaan tanah.
Pemerintah daerah juga akan meningkatkan koordinasi antarlembaga selama status Siaga Karhutla masih berlaku. Patroli dan pemantauan akan dilakukan di daerah-daerah yang dinilai rawan terbakar.
Masyarakat diminta segera melapor kepada petugas apabila menemukan titik api atau aktivitas pembakaran lahan. Langkah cepat diperlukan agar kebakaran tidak meluas dan menimbulkan kabut asap yang dapat mengganggu kesehatan serta aktivitas warga.










