Waspada! Ini Tanda-Tanda Kamu Terjebak dalam Abusive Relationship Menurut Psikolog

Waspada! Ini Tanda-Tanda Kamu Terjebak dalam Abusive Relationship Menurut Psikolog

Gaya Hidup | inews | Sabtu, 27 Juni 2026 - 04:04
share

JAKARTA, iNews.id – Hubungan asmara seharusnya memberikan rasa aman dan nyaman bagi kedua belah pihak. Namun, tidak sedikit orang yang tanpa sadar justru terjebak dalam abusive relationship atau hubungan yang dipenuhi kekerasan.

Dosen Psikologi Universitas Islam Bandung, Stephani Raihana Hamdan, menjelaskan bahwa abusive relationship tidak selalu ditandai dengan kekerasan fisik yang terjadi setiap hari. Justru, hubungan seperti ini memiliki pola yang berulang, sehingga korban sering kali sulit menyadari bahwa dirinya sedang berada dalam hubungan yang tidak sehat.

Menurut Stephani, salah satu tanda paling umum adalah adanya siklus kekerasan. Hubungan biasanya diawali dengan masa-masa romantis (honeymoon phase), kemudian muncul pertengkaran dan kekerasan. Setelah itu, pelaku meminta maaf dan kembali bersikap penuh kasih sayang.

"Tapi biasanya ada fase rekonsiliasi, pelaku meminta maaf dan hubungan kembali ke fase honeymoon. Karena itu korban sering memilih bertahan," ujarnya kepada iNews.id, belum lama ini.

Selain siklus tersebut, Stephani menyebut kekerasan dalam hubungan biasanya meningkat secara perlahan. Korban mungkin awalnya hanya menerima perlakuan kasar ringan, tetapi seiring waktu bentuk kekerasan menjadi semakin serius.

Menurutnya, kondisi itu sering kali membuat korban kehilangan kemampuan untuk melihat hubungan secara objektif karena masih berharap pasangannya benar-benar berubah.

Stephani juga mengungkap sejumlah karakter yang dapat membuat seseorang lebih rentan menjadi korban abusive relationship. Salah satunya adalah memiliki ketergantungan emosional yang tinggi terhadap pasangan.

Korban yang merasa tidak bisa hidup tanpa pasangan cenderung lebih mudah dimanipulasi oleh pelaku, terlebih jika memiliki rasa tidak percaya diri atau insecure.

Sementara itu, pelaku abusive relationship umumnya memiliki sifat sangat dominan, agresif, serta berusaha mengontrol kehidupan pasangannya.

"Ketika seseorang sangat bergantung kepada pasangannya lalu bertemu pasangan yang dominan, agresif, dan controlling, maka risikonya lebih besar masuk ke dalam hubungan yang tidak sehat," jelas Stephani.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa penjelasan tersebut merupakan gambaran berdasarkan konsep psikologi dan hasil penelitian mengenai abusive relationship. Analisis tersebut tidak dimaksudkan sebagai kesimpulan terhadap kasus penyekapan dan penganiayaan yang saat ini viral dan masih dalam proses hukum.

Stephani berharap masyarakat semakin memahami tanda-tanda hubungan yang tidak sehat sehingga dapat mencari bantuan sejak dini sebelum kekerasan berkembang menjadi lebih parah.

Topik Menarik