Kisah Inspiratif Fulviana Berhasil Lulus Kedokteran UGM di Usia 20 Tahun, Ini Rahasianya
JAKARTA, iNews.id - Berhasil lulus sarjana kedokteran di usia 20 tahun bukanlah pencapaian yang diraih secara instan bagi Fulviana Ramadlonia Agung Putri. Di balik prestasinya sebagai lulusan termuda Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) dari Universitas Gadjah Mada (UGM) terdapat konsistensi belajar, kemampuan mengelola tekanan akademik, serta disiplin menjaga keseimbangan hidup yang menjadi kunci keberhasilannya.
Fulviana berhasil lulus dari FK-KMK UGM pada usia 20 tahun 4 bulan 27 hari. Padahal usia rata-rata lulusan program sarjana yang diwisuda adalah 22 tahun 6 bulan 15 hari.
Ia mengaku menempuh pendidikan dasar pada usia yang masih terbilang sangat belia, yaitu 5 tahun 8 bulan. Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya, ia mengikuti program akselerasi dan berhasil menyelesaikan pendidikan menengah pertama dalam kurun waktu 2 tahun.
Kemudian, ia masuk SD lebih awal dan mengikuti program akselerasi. Fulviana pun melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi pada usia 16 tahun 8 bulan.
Menjadi wisudawan termuda bukanlah sesuatu yang pernah dibayangkan Fulviana sebelumnya. Ia mengatakan bahwa capaiannya tersebut merupakan sebuah hasil dari proses belajar yang dijalani dengan konsisten.
“Sebenarnya, di awal kuliah saya sempat merasa tertekan karena harus terus belajar dan menjaga konsistensi. Tapi, dengan capaian ini, saya tentu merasa sangat senang, bangga, dan bersyukur. Jujur, saya tidak menyangka akan menjadi lulusan termuda,” katanya, Senin (22/6/2026).
Di balik capaian tersebut, Fulviana mengaku tantangan besar yang dihadapinya selama menempuh studi adalah proses adaptasi. Menurutnya, di usia yang masih tergolong muda, keinginan untuk menikmati masa remaja masih cukup besar.
Namun, seiring berjalannya waktu, ia mulai belajar menyesuaikan diri dengan ritme belajar dan menjadikan tekanan tersebut sebagai motivasi untuk terus berkembang.
“Di usiaku yang masih muda ini, aku masih ada keinginan buat bermain atau menikmati masa remaja seperti teman-teman lain. Tekanan akademik saat aku menempuh studi juga cukup berat bagiku. Tapi, seiring berjalannya waktu, aku belajar untuk menyesuaikan diri dan menjadikan tekanan tersebut sebagai motivasi untuk terus berkembang,” jelasnya.
Fulviana menilai bahwa salah satu kunci yang membuat proses studinya berjalan lancar adalah kemampuan dalam memahami diri sendiri. Ia belajar menemukan metode belajar yang paling sesuai, seperti kapan harus fokus dan kapan perlu beristirahat agar tidak mengalami kelelahan fisik, emosional, dan mental akibat stress berkepanjangan (burnout).
“Bagiku, tidak harus selalu belajar terlalu lama, tapi bagaimana bisa disiplin dan menjaga ritme belajar dengan baik,” katanya.
Meski menjadi salah satu wisudawan termuda, Fulviana mengaku tidak terlalu merasa tertinggal dibandingkan teman-temannya. Ia sadar teman-teman yang lebih dewasa sering kali memiliki pengalaman hidup dan kemampuan menghadapi tekanan secara lebih matang.
“Saya banyak belajar dari teman-teman saya, baik dalam hal akademik maupun cara menghadapi tekanan selama kuliah kedokteran,” ujarnya.
Menurut Fulviana, dukungan dari orang-orang terdekat menjadi hal yang sangat penting selama menjalani pendidikan. Lingkungan yang baik membantu Fulviana dalam menjaga keseimbangan antara akademik, kesehatan, dan kehidupan pribadi di tengah jadwal kuliah yang padat.
Ia melihat keberhasilan tersebut sebagai hasil dukungan dari orang tua, teman-teman, dan berbagai pihak yang senantiasa menemaninya selama menempuh masa studi.
“Menurutku, ini semua bukan tentang usia atau menjadi wisudawan termuda, tapi juga hasil dari proses panjang dengan dukungan hangat dari banyak orang,” ungkapnya.
Setelah resmi diwisuda, Fulviana mengaku ingin terus belajar dan mengembangan diri saat menjalani tahap profesi dokter. Ke depannya, ia berharap dapat menjadi dokter yang kompeten secara ilmu dan memiliki empati tinggi terhadap pasien.
Melalui pengalaman dan perjalanan studi panjangnya, ia turut berpesan kepada rekan seusianya agar tidak takut mengejar cita-cita besar.
“Buat teman-teman seusiaku, jangan takut mencoba dan jangan membatasi diri karena usia atau rasa kurang percaya diri. Terus, buat ke depannya sendiri, aku berharap bisa jadi dokter yang kompeten ilmunya dan bisa memberikan empati serta pelayanan terbaik bagi pasien,” tutupnya.










