Ali Ngabalin Nilai Kisruh Diskusi di UGM Bagian dari Dinamika Demokrasi
JAKARTA, iNews.id - Mantan Tenaga Ahli Kantor Staf Presiden (KSP) Ali Mochtar Ngabalin merespons diskusi yang digelar di Universitas Gadjah Mada (UGM) yang berujung kisruh. Menurutnya, peristiwa itu merupakan bagian dari dinamika demokrasi yang wajar terjadi dalam ruang dialog antara mahasiswa dan pejabat pemerintah.
Ketua DPP Partai Golkar itu melihat sisi positif dari penyelenggaraan forum terbuka tersebut.
“Saya pikir itu biasa saja. Yang paling bagus karena sudah lama saya baru lihat ada dialog di tanah lapang. Dalam alam demokrasi seperti hari ini dan adik-adik mahasiswa, saya kira kita semua aktivis, jadi biasa saja dalam pengertian bahwa mungkin mereka berdialog,” ucap Ali Ngabalin dalam program Interupsi bertajuk 'Kisruh Diskusi UGM: Ruang Dialog atau Konflik?' yang disiarkan di iNews, Kamis (18/6/2026).
Dia menilai, insiden yang terjadi pada dialog tersebut tidak dapat dikategorikan sebagai konflik serius. Dia menyebut, perbedaan pendapat dalam forum diskusi merupakan hal yang lazim dalam kehidupan demokrasi.
“Kalau konflik tidaklah, karena itu bukan Amerika, Iran, dan Israel. Saya kira sudah damai juga sekarang,” tuturnya.
Lebih lanjut, Ngabalin menekankan bahwa yang terpenting dari peristiwa tersebut adalah nilai pembelajaran yang dapat diambil, baik oleh mahasiswa maupun pejabat pemerintah.
“Yang paling pokok itu adalah ada nilai yang harus diambil, ada value yang kira-kira harus bisa menjadi pembelajaran antara mahasiswa dan pejabat pemerintah,” ucapnya.
Ngabalin kemudian mengungkapkan pengalamannya saat bertugas di KSP. Dia menyebut pernah ada program “KSP Mendengar” yang secara khusus menjalin komunikasi dengan kalangan mahasiswa.
Menurutnya, pola dialog yang ideal adalah ketika pemerintah terlebih dahulu menyampaikan maksud kedatangan dan membuka ruang bagi mahasiswa untuk menyampaikan persoalan yang ingin diteruskan kepada pemerintah maupun presiden.
Ngabalin menilai, forum “Kopdar Bareng Mas Dar” yang berujung kisruh itu dapat menjadi sarana bagi pemerintah untuk menjelaskan berbagai program yang tengah menjadi perbincangan publik, seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Merah Putih, hingga Sekolah Rakyat.
“Boleh jadi mereka bisa menjelaskan. Tetapi saya setuju bahwa pertemuan itu harus ada dialog yang equal,” kata Ngabalin.
Diketahui, dialog itu bertajuk “Kopdar Bareng Mas Dar” yang menghadirkan Wakil Menteri Pertanian Sudaryono, Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan Budiman Sudjatmiko, dan Menteri ATR/BPN Nusron Wahid di Universitas Gadjah Mada pada, Senin (15/6/2026) malam.
Namun, dialog tersebut berujung kisruh setelah sekelompok massa merangsek ke atas panggung.









