Harga Minyak Dunia Anjlok ke Level Terendah dalam 3 Bulan usai Kesepakatan Damai AS-Iran

Harga Minyak Dunia Anjlok ke Level Terendah dalam 3 Bulan usai Kesepakatan Damai AS-Iran

Terkini | inews | Selasa, 16 Juni 2026 - 13:11
share

JAKARTA, iNews.id - Harga minyak mentah dunia anjlok signifikan dan menyentuh level terendah dalam lebih dari tiga bulan pada, Senin (15/6/2026). Hal ini terjadi usai Amerika Serikat (AS) dan Iran telah mencapai kesepakatan damai.

Melansir CNN, kesepakatan tersebut akan mengakhiri blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran serta membuka kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran penting bagi perdagangan energi global.

Minyak mentah Brent, yang menjadi acuan harga minyak dunia, turun 5 persen menjadi 82,91 dolar AS per barel. Pada Jumat lalu, Brent ditutup di level terendah sejak 5 Maret, yakni pada pekan pertama serangan udara AS-Israel terhadap Iran.

Sementara, minyak mentah AS (WTI) turun 5,5 persen menjadi 80,21 dolar AS per barel, juga menjadi level terendah sejak awal Maret. Dalam sepekan terakhir, kedua jenis minyak tersebut telah menurun sekitar 10 dolar AS per barel.

Meski demikian, harga minyak masih berada sekitar 10 dolar AS per barel lebih tinggi dibandingkan sebelum AS dan Israel meluncurkan serangan terhadap Iran pada akhir Februari 2026. Para analis menilai dibutuhkan waktu berbulan-bulan sebelum harga kembali ke level sebelum konflik.

"Sentimen pasar jelas membaik, tetapi sentimen tidak sama dengan pasokan," ucap Kepala Ekonom Rystad Energy, Claudio Galimberti dalam catatannya dikutip, Selasa (16/6/2026).

Pasar menyambut positif perkembangan menuju perdamaian tersebut. Namun, industri minyak masih menghadapi berbagai tantangan sebelum pasokan kembali normal. 

Pasalnya, Selat Hormuz perlu dibersihkan dari ranjau, sehingga kapal-kapal harus kembali dapat melintas dengan aman. Selain itu, produksi minyak Timur Tengah harus dipulihkan, cadangan minyak darurat perlu diisi ulang, dan berbagai fasilitas energi yang rusak harus diperbaiki.

Banyak analis memperkirakan harga minyak akan tetap berada pada level tinggi dalam jangka waktu yang cukup lama. Walaupun harga mungkin turun dalam waktu dekat, permintaan yang kembali meningkat dan kebutuhan mengisi ulang cadangan darurat diperkirakan akan mendorong harga kembali naik.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengumumkan melalui media sosial bahwa kesepakatan dengan Iran telah selesai. Meski teks lengkap perjanjian belum dipublikasikan, nota kesepahaman tersebut diperkirakan akan ditandatangani pada Jumat mendatang di Swiss.

Baik Trump maupun Wakil Menteri Luar Negeri Iran untuk Urusan Hukum dan Internasional mengisyaratkan bahwa blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran akan dicabut. Trump juga menyebut ranjau-ranjau di Selat Hormuz harus disingkirkan agar jalur tersebut kembali aman digunakan.

Trump menambahkan dirinya telah mengizinkan pembukaan Selat Hormuz tanpa biaya. Sebelumnya, kapal-kapal yang melintas disebut dikenakan biaya rata-rata sekitar 2 juta dolar AS, menurut seorang anggota parlemen Iran.

Meski demikian, Washington dan Teheran masih menyampaikan pesan yang berbeda terkait langkah selanjutnya setelah perjanjian ditandatangani. Wakil Menteri Luar Negeri Iran mengatakan, negosiasi nuklir selama 60 hari baru akan dimulai setelah AS mencairkan miliaran dolar dana Iran yang dibekukan. Namun, seorang pejabat AS membantah pernyataan tersebut.

Bahkan jika Selat Hormuz kembali dibuka, pemulihan arus pasokan minyak tidak akan terjadi secara instan. Sebagian besar sumur minyak di Timur Tengah dihentikan operasinya selama perang dan membutuhkan waktu beberapa minggu untuk kembali mencapai kapasitas produksi normal.

Para ahli juga memperingatkan bahwa produksi minyak kemungkinan tidak akan langsung kembali ke tingkat sebelum perang akibat gangguan teknis yang muncul selama masa penghentian operasi yang berkepanjangan.

Topik Menarik