FIFA Bayar Penuh Omar Artan, Wasit Piala Dunia 2026 asal Somalia yang Diusir dari AS
MIAMI, iNews.id – Wasit Omar Artan tetap menerima bayaran penuh dari FIFA meski gagal memimpin pertandingan Piala Dunia 2026 setelah ditolak masuk Amerika Serikat (AS). Wasit asal Somalia itu tak bisa bertugas usai dicegat di Bandara Internasional Miami.
FIFA memastikan Artan tetap mendapat honor turnamen secara penuh. Pembayaran itu akan diberikan pada akhir turnamen, sama seperti ofisial pertandingan lainnya.
Keputusan tersebut muncul setelah Artan mengalami insiden memalukan jelang Piala Dunia 2026. Dia dilarang masuk AS pada Sabtu (6/6/2026), meski masuk daftar 52 ofisial pertandingan pilihan FIFA.
Pemerintahan Donald Trump menyebut Artan memiliki “kaitan dengan anggota organisasi teror yang dicurigai”. Namun, dasar tuduhan itu tidak dijelaskan secara terbuka.
Artan datang ke AS dengan status wasit yang telah dipilih FIFA. Dia juga membawa akreditasi resmi dari FIFA untuk bertugas di turnamen terbesar sepak bola dunia tersebut.
Omar Artan Dicecar 11 Jam
Kepada New York Times, Artan menegaskan dia membawa dokumen lengkap sebelum terbang ke AS. Dia juga menyebut visa yang dipakainya sudah sesuai.
“Saya punya dokumen yang benar,” kata Artan, dikutip dari Inside World Football.
“Saya punya visa yang benar,” ujarnya.
Artan kemudian diperiksa petugas perbatasan selama lebih dari 11 jam. Setelah itu, dia ditahan di ruang penahanan dan dikirim kembali ke Istanbul, kota tempat transitnya.
Dari Istanbul, Artan akhirnya pulang ke Somalia. Kepulangannya disambut meriah sebagai pahlawan oleh publik di negaranya.
Insiden itu terasa makin menyakitkan karena Artan sedang berada di ambang sejarah. Dia seharusnya menjadi ofisial pertama dari Somalia yang memimpin pertandingan di Piala Dunia.
Artan juga bukan nama sembarangan di Afrika. Dia terpilih sebagai wasit putra terbaik Konfederasi Sepak Bola Afrika atau CAF pada 2025.
UEFA Beri Panggung Besar
Di tengah sikap FIFA yang dinilai terlalu hati-hati, UEFA justru memberi dukungan nyata kepada Artan. Badan sepak bola Eropa itu menunjuknya sebagai wasit laga Piala Super Eropa.
Pertandingan tersebut mempertemukan juara Liga Champions Paris Saint-Germain melawan juara Liga Europa Aston Villa pada 12 Agustus. Penunjukan itu menjadi sinyal kuat kepercayaan UEFA kepada Artan.
Presiden UEFA Aleksander Ceferin menyebut keputusan tersebut sebagai bentuk penghormatan kepada Artan. Dia menilai Artan memiliki kualitas kepemimpinan pertandingan yang luar biasa.
“UEFA ingin menunjukkan rasa hormat kepada Omar dan kemampuan memimpin pertandingannya yang luar biasa,” kata Ceferin.
Respons Presiden FIFA Gianni Infantino berbeda. Dia menyampaikan FIFA tidak punya kuasa atas kebijakan pemerintah maupun aparat keamanan sebuah negara.
“Kami bukan raja dunia yang bisa mengatur pemerintah dan kepolisian,” kata Infantino.
“Mungkin terkadang bagus juga untuk tenang, santai. Terkadang, langsung berteriak dan ribut justru memberi efek sebaliknya dalam mencari solusi,” tuturnya.
Pernyataan itu memunculkan sorotan tajam. FIFA memilih membayar penuh Artan, tetapi belum memberi jawaban tegas soal upaya melindungi wasit yang mereka pilih sendiri.
Artan dipilih FIFA, diakreditasi FIFA, lalu ditolak masuk AS dengan alasan yang belum dibuka ke publik. Di sisi lain, UEFA bergerak cepat dengan memberinya salah satu tugas besar di kalender mereka.
Kasus Omar Artan pun menjadi salah satu cerita paling pahit jelang Piala Dunia 2026. Dia gagal mencetak sejarah di lapangan, tetapi namanya kini menjadi simbol perdebatan besar soal kekuasaan sepak bola dan batas politik negara tuan rumah.










