Gunung Lewotobi Laki-Laki Meletus Tengah Malam, Muntahkan Kolom Abu Setinggi 1,8 Km

Gunung Lewotobi Laki-Laki Meletus Tengah Malam, Muntahkan Kolom Abu Setinggi 1,8 Km

Nasional | inews | Sabtu, 6 Juni 2026 - 08:01
share

FLORES TIMUR, iNews.id - Gunung Lewotobi Laki-Laki di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali mengalami erupsi pada Jumat tengah malam (5/6/2026). Letusan terjadi pukul 22.41 WITA dengan kolom abu vulkanis mencapai ketinggian sekitar 1.800 meter atau 1,8 km di atas puncak gunung.

Data dari Pos Pengamatan Gunung Api Lewotobi Laki-Laki, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), menyebutkan kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal yang mengarah ke barat dan barat laut.

Erupsi tersebut terekam jelas melalui seismograf dengan amplitudo maksimum 22 milimeter dan durasi letusan selama 3 menit 16 detik.

"Telah terjadi erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki, Nusa Tenggara Timur pada tanggal 05 Juni 2026 pukul 22:41 WITA dengan tinggi kolom abu teramati ± 1.800 meter di atas puncak (± 3.384 meter di atas permukaan laut)," tulis laporan resmi PVMBG.

Hingga saat ini Gunung Lewotobi Laki-Laki masih berada pada Status Level III Siaga. PVMBG meminta masyarakat untuk tidak beraktivitas dalam radius 5 kilometer dari pusat erupsi guna menghindari risiko bahaya material vulkanis.

Selain warga sekitar, para wisatawan juga diminta tidak mendekati kawasan gunung selama aktivitas vulkanis masih tinggi.

PVMBG juga mengingatkan masyarakat agar mewaspadai potensi banjir lahar hujan yang dapat terjadi sewaktu-waktu apabila hujan deras mengguyur kawasan puncak gunung. Daerah yang diminta meningkatkan kewaspadaan antara lain Dulipali, Padang Pasir, Nobo, Nurabelen, Klatanlo, Hokeng Jaya, Boru, dan Nawakote.

Wilayah-wilayah tersebut berada di jalur sungai yang berhulu langsung dari kawasan Gunung Lewotobi Laki-Laki sehingga berpotensi dilalui material vulkanis saat terjadi hujan lebat.

PVMBG juga mengimbau masyarakat yang terdampak hujan abu vulkanik agar menggunakan masker atau penutup hidung dan mulut.

Langkah tersebut penting dilakukan untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan, terutama pada sistem pernapasan akibat paparan abu vulkanis.

Topik Menarik