Unggul Duluan tapi Tersingkir, Devin/Faathir Akui Kehilangan Fokus Jadi Biang Kerok Kekalahan

Unggul Duluan tapi Tersingkir, Devin/Faathir Akui Kehilangan Fokus Jadi Biang Kerok Kekalahan

Olahraga | inews | Rabu, 3 Juni 2026 - 23:45
share

JAKARTA, iNews.id – Ali Faathir Rayhan/Devin Artha Wahyudi mengakui kehilangan fokus menjadi penyebab utama kegagalan mereka melaju ke babak kedua Indonesia Open 2026. Padahal, pasangan ganda putra Indonesia itu sempat berada di atas angin setelah merebut gim pertama.

Bertanding di babak pertama Indonesia Open 2026 di Istora Senayan, Jakarta, Rabu (3/6/2026), Devin/Faathir harus mengakui keunggulan pasangan Chinese Taipei, Zhi-Wei He/Huang Jui-Hsuan.

Pasangan Indonesia tersebut sebenarnya memulai pertandingan dengan sangat baik. Mereka tampil agresif dan mampu merebut gim pertama dengan skor meyakinkan 21-13.

Momentum positif itu sempat berlanjut pada gim kedua. Meski tertinggal 7-11 saat interval, Devin/Faathir berhasil bangkit dan menyamakan kedudukan menjadi 11-11.

Persaingan semakin ketat ketika mereka terus menempel perolehan angka lawan hingga skor 14-15. Namun, pasangan Chinese Taipei berhasil mengambil alih kendali permainan pada momen-momen krusial.

Devin menilai permainan mereka sebenarnya sudah berjalan sesuai rencana pada dua gim awal. Namun, fokus yang tiba-tiba hilang menjelang akhir gim kedua menjadi titik balik pertandingan.

"Sebenarnya dari awal cara mainnya sudah benar game pertama dan game kedua. Di game kedua terakhir waktu kedudukan 17-18, tiba-tiba langsung hilang fokusnya. Terus di game ketiga, kami langsung tertekan dan lawan lebih enak mainnya," ujar Devin, dikutip dari rilis resmi PBSI.


Atmosfer Istora Jadi Pelajaran Berharga

Kehilangan gim kedua membuat kepercayaan diri lawan meningkat. Sebaliknya, Devin/Faathir kesulitan keluar dari tekanan hingga akhirnya kalah 17-21 pada gim kedua dan 11-21 pada gim ketiga.

Bagi Devin/Faathir, Indonesia Open 2026 menjadi pengalaman berharga. Ini merupakan kali kedua mereka tampil di Istora Senayan setelah sebelumnya merasakan atmosfer Indonesia Masters 2026.

Meski tidak merasa terbebani, Faathir mengakui suasana Indonesia Open berbeda dibanding turnamen lain. Status turnamen Super 1000 dan dukungan ribuan penonton membuat atmosfer pertandingan terasa jauh lebih besar.

"Kalau pressure sih tidak ada, tapi mungkin grogi saja sih. Indonesia Open kan turnamen level Super 1000, apalagi merasakan atmosfer Istora yang ramai banget pendukungnya," kata Faathir.

Pasangan peringkat 37 dunia itu menjadikan kekalahan kali ini sebagai bahan evaluasi penting untuk meningkatkan kualitas permainan mereka di masa depan.

Faathir menyoroti fokus sebagai aspek utama yang harus diperbaiki. Dia merasa timnya sempat kehilangan kendali setelah lawan mulai menemukan ritme permainan.

"Evaluasinya, kalau saya fokusnya harus ditingkatkan lagi. Karena kan tadi kami bisa menang di game pertama, lumayan jauh kan ya. Tapi game kedua, mungkin karena kaget 'menang angin' jadi kami dari awal sudah ketekan duluan," tuturnya.

Hal senada disampaikan Devin. Dia menilai pemain harus mampu melupakan poin-poin yang hilang dan segera mencari solusi di lapangan agar tidak terus berada dalam tekanan.

"Kalau saya, habis hilang beberapa poin, jangan dipikirin. Harus cepat-cepat mengubah pola main. Sama soal fokusnya juga harus lebih dijaga saat kehilangan satu atau dua poin. Fokusnya harus kencang terus," ungkap Devin.

Topik Menarik