Rupiah Melemah, Tenaga Ahli DEN: Ekonomi Nasional Masih Aman

Rupiah Melemah, Tenaga Ahli DEN: Ekonomi Nasional Masih Aman

Terkini | inews | Rabu, 3 Juni 2026 - 01:18
share

JAKARTA, iNews.id - Fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS belakangan memicu kekhawatiran publik mengenai stabilitas ekonomi nasional. Meski tekanan eksternal terus membayangi, pemerintah memastikan fundamental ekonomi Indonesia saat ini tidak rapuh.

Tenaga Ahli Utama Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luthfi Ridho menegaskan kedaulatan ekonomi tetap terjaga meskipun rupiah melemah. Salah satu indikatornya terlihat dari komposisi kepemilikan asing pada Surat Utang Negara (SUN) yang kini tinggal 12 persen atau setara dengan Rp866 triliun.

Walaupun angka tersebut berpotensi menambah tekanan dolar AS di pasar domestik jika terjadi arus modal keluar, berbagai parameter risiko lainnya masih menunjukkan sinyal positif. Pemerintah terus memantau pergerakan pasar melalui berbagai instrumen ukur yang akurat. 

Kepastian mengenai kemampuan negara dalam mengelola kewajiban finansialnya menjadi prioritas utama guna menjaga kepercayaan investor internasional.

"Sovereign Risk Premium sama ada satu lagi Currency Series. Dua-duanya masih aman menandakan kita tuh masih bisa sanggup bayar utang luar negeri, kita masih bisa sanggup handle," ujar Gema dalam program Rakyat Bersuara bertajuk 'Perang Berkecamuk, Penyebab Rupiah Ambruk?' yang disiarkan di iNews, Selasa (2/6/2026).

Terkait dengan kebijakan subsidi, Luthfi menjelaskan posisi anggaran negara masih cukup aman selama harga minyak dunia, khususnya jenis Brent, tidak melampaui batas tertentu. Saat ini, harga minyak Brent berada di kisaran 93 dolar AS per barel, yang secara historis masih berdekatan dengan patokan Indonesia Crude Price (ICP).

Berdasarkan hasil simulasi internal, tantangan berat baru akan muncul jika harga Brent menyentuh level 120 dolar AS per barel dalam durasi enam bulan ke depan. Jika kondisi ekstrem tersebut terjadi, pemerintah harus bekerja keras mencari celah agar harga bahan bakar minyak (BBM) tetap stabil. Hal ini dilakukan demi menjaga daya beli kelas menengah.

Namun, kenaikan harga BBM ditegaskan sebagai jalan paling terakhir yang akan diambil jika seluruh opsi lain sudah tertutup. Selama masih tersedia skema alternatif, pemerintah berkomitmen penuh untuk menghindari kebijakan yang memberatkan masyarakat tersebut.

Optimisme ini juga didasarkan pada perbandingan data historis yang menunjukkan situasi sekarang sangat berbeda dengan krisis moneter tahun 1998. Pada masa itu, lonjakan dolar terjadi secara drastis dari level Rp2.000 hingga menembus Rp16.000, sementara saat ini pergerakan hanya berkisar di angka Rp15.000 ke rentang Rp16.000 hingga Rp17.000.

Kondisi likuiditas nasional saat ini terpantau jauh lebih sehat dan kuat dibandingkan beberapa dekade lalu. Fokus utama pemerintah sekarang adalah menjaga bantalan ekonomi agar tidak terperosok ke dalam lubang krisis yang sama.

"Di '98 itu dolar itu dari sekitar Rp2.000-Rp2.500 menjadi Rp16.000. Nah kita itu dari sekitar Rp15.000 jadi Rp16.000-Rp17.000," jelas Luthfi.

Topik Menarik