BPS Ramal Produksi Beras RI Turun Jadi 21,95 Juta Ton hingga Juli 2026

BPS Ramal Produksi Beras RI Turun Jadi 21,95 Juta Ton hingga Juli 2026

Terkini | inews | Selasa, 2 Juni 2026 - 13:20
share

JAKARTA, iNews.id - Badan Pusat Statistik (BPS) merilis potret terkini kondisi pangan nasional untuk periode Januari hingga Juli 2026. Pihaknya memprediksi produksi menurun.

Berdasarkan hasil amatan terbaru, luas panen padi sepanjang Januari hingga Juli 2026 diprediksi mencapai 7,20 juta hektar. Angka ini mencatatkan kenaikan tipis sebesar 0,001 juta hektar atau sekitar 0,02 persen jika disandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. 

Namun, geliat positif pada luas lahan ini tidak serta merta diikuti oleh volume produksi yang melimpah. Pada April 2026, produksi gabah kering giling (GKG) tercatat sebesar 7,63 juta ton, sebuah angka yang menunjukkan penurunan signifikan sebesar 16,03 persen dibandingkan capaian April 2025 yang mencapai 9,09 juta ton. 

Tren penurunan ini diperkirakan masih akan membayangi hingga pertengahan tahun. BPS memproyeksikan total produksi padi selama tujuh bulan pertama tahun ini akan berada di angka 38,11 juta ton GKG, atau terkoreksi 0,34 persen dibandingkan tahun 2025.

BPS secara konsisten melakukan pemantauan ketat terhadap pergerakan data di sektor pertanian tanaman pangan. Langkah ini diambil guna memastikan akurasi data yang akan menjadi basis kebijakan pemerintah dalam menjaga ketahanan pangan nasional.

"Produksi padi sepanjang Januari hingga Juli 2026 diperkirakan mencapai 38,11 juta ton GKG atau mengalami penurunan sebesar 0,13 juta ton GKG dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2025," ungkap Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS, Pudji Ismartini dalam paparannya di agenda Berita Resmi Statistik, Selasa (2/6/2026).

Sejalan dengan kondisi tersebut, produksi setara beras untuk konsumsi masyarakat juga mengalami penyesuaian. Pada April 2026, produksi beras berada di angka 4,40 juta ton, turun dari posisi 5,23 juta ton pada April tahun lalu. 

Secara akumulatif, total produksi beras periode Januari-Juli 2026 diperkirakan mencapai 21,95 juta ton, turun tipis 0,35 persen dari tahun sebelumnya.

Untuk lokasi panen, potensi terbesar sepanjang Mei hingga Juli 2026 terkonsentrasi di Pulau Jawa, meliputi Jawa Barat (Indramayu, Karawang, Subang, Cianjur, Sukabumi, Cirebon), Jawa Tengah (Pati, Sragen, Blora, Demak, Grobogan, Kebumen), hingga Jawa Timur (Bojonegoro, Lamongan) dan Banten (Pandeglang, Lebak). 

Luar Jawa pun turut berkontribusi, mulai dari Sumatera (Banyuasin, Lampung Timur, Aceh, dan lainnya), Sulawesi Selatan (Pinrang), Kalimantan Selatan, hingga kawasan Nusa Tenggara (NTB dan NTT).

Di sisi lain, komoditas jagung menunjukkan performa yang cukup dinamis pada awal kuartal kedua tahun ini. Berdasarkan survei Kerangka Sampel Area (KSA), luas panen jagung pipilan pada April 2026 mencapai 0,24 juta hektar, sedikit lebih tinggi dibandingkan capaian tahun lalu.

Peningkatan luas lahan pada bulan April tersebut nyatanya memberikan dampak instan pada volume produksi jagung pipilan kering nasional. Kondisi ini menjadi sinyal positif bagi sektor pakan ternak dan industri olahan yang sangat bergantung pada stabilitas pasokan jagung.

"Produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14 pada April 2026 mencapai 1,38 juta ton, di mana angka ini lebih tinggi dibandingkan April 2025 yang sebesar 1,27 juta ton," jelas Pudji menambahkan.

Meski demikian, BPS mengingatkan adanya potensi penurunan luas panen jagung pada periode Mei-Juli 2026 sebesar 4,71 persen. Secara total, produksi jagung Januari-Juli 2026 diperkirakan mencapai 9,75 juta ton, menurun 2,81 persen dari periode yang sama tahun 2025. Angka ini sudah mencakup tanaman jagung yang dipanen muda maupun untuk hijauan pakan ternak.

Pudji menekankan bahwa seluruh proyeksi ini masih bersifat dinamis dan sangat bergantung pada realisasi di lapangan. Faktor eksternal seperti perubahan cuaca dan serangan hama tetap menjadi variabel yang paling sulit diprediksi namun berdampak masif.

Topik Menarik