Hari Tanpa Tembakau Sedunia 31 Mei 2026, Ahli Tegaskan Rokok Sumber Penyakit!

Hari Tanpa Tembakau Sedunia 31 Mei 2026, Ahli Tegaskan Rokok Sumber Penyakit!

Terkini | inews | Minggu, 31 Mei 2026 - 13:26
share

JAKARTA, iNews.id – Peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) yang jatuh pada 31 Mei 2026 kembali mengingatkan masyarakat akan dampak buruk rokok terhadap kesehatan. Tak hanya meningkatkan risiko kanker dan penyakit jantung, kebiasaan merokok juga terbukti berperan dalam meningkatnya kasus tuberkulosis (TBC).

Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Prof Tjandra Yoga Aditama, mengatakan berbagai bukti ilmiah menunjukkan bahwa kebiasaan merokok berkaitan erat dengan terjadinya TBC serta memengaruhi keberhasilan pengobatan penyakit tersebut.

"Karena di dalam Asta Cita Presiden dan Wakil Presiden dicantumkan tentang penyakit tuberkulosis, maka pada Hari Tanpa Tembakau Sedunia tahun ini kita perlu membahas hubungan antara TBC dan kebiasaan merokok," ujar Prof Tjandra dalam keterangannya, Sabtu (31/5/2026).

Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2026 mengusung tema 'Unmask the Appeal – Countering Tobacco and Nicotine Addiction' atau mengungkap daya tarik di balik kecanduan nikotin dan tembakau. WHO menyoroti berbagai strategi industri tembakau dan nikotin yang dinilai membuat produk-produknya semakin menarik, terutama bagi kalangan muda. 

Menurut Prof Tjandra, publikasi WHO berjudul 'Tobacco Exposed - Poisoning Our Planet and a Key Driver for the TB Epidemic' menunjukkan sedikitnya empat dampak utama kebiasaan merokok terhadap TBC.

Pertama, merokok menjadi salah satu faktor penting dalam epidemi TBC global. Pada 2020 diperkirakan terdapat sekitar 730 ribu kasus TBC yang berkaitan dengan kebiasaan merokok.

Kedua, perokok aktif maupun perokok pasif memiliki risiko sekitar dua kali lebih besar untuk terkena TBC dibandingkan mereka yang tidak terpapar asap rokok.

Ketiga, kebiasaan merokok dapat memperlambat pemulihan pasien TBC serta menurunkan keberhasilan pengobatan. Kondisi ini juga meningkatkan risiko kekambuhan hingga kematian akibat TBC.

"Pasien TBC yang masih merokok ternyata lebih sering mengalami masalah keluhan paru-parunya walaupun sudah menyelesaikan pengobatan TBC," katanya.

Selain itu, jurnal ilmiah internasional Pathogens tahun 2024 juga menemukan bahwa perokok aktif maupun pasif merupakan faktor risiko untuk infeksi TBC, reaktivasi penyakit, perburukan kasus primer, peningkatan keparahan TBC dengan kavitas atau lubang pada paru-paru, hingga kematian akibat penyakit tersebut.

Prof Tjandra menjelaskan, secara biologis asap rokok dapat mengganggu kerja makrofag alveolar, yakni sel pertahanan tubuh yang berfungsi melawan bakteri penyebab TBC.

"Asap rokok ternyata mengganggu bahkan mensupresi peran makrofag alveolar yang merupakan pertahanan tubuh terhadap kuman TBC," ujarnya.

Tak hanya itu, paparan asap rokok juga diduga dapat memicu perubahan pada bakteri TBC, sehingga berpotensi meningkatkan resistensi terhadap obat anti-TBC yang digunakan pasien.

Berdasarkan berbagai temuan tersebut, Prof Tjandra menilai program pengendalian TBC dan pengendalian konsumsi rokok perlu berjalan beriringan, baik di tingkat pelayanan kesehatan maupun dalam kebijakan nasional.

"Jelas perlu ada koordinasi antara program pengendalian tuberkulosis dengan program penanggulangan merokok, dan ini perlu juga diterapkan di negara kita, baik di tingkat klinik maupun kebijakan nasional," tuturnya.

WHO sendiri memperkirakan penggunaan tembakau menyebabkan jutaan kematian setiap tahun di seluruh dunia dan masih menjadi salah satu ancaman kesehatan masyarakat terbesar saat ini. 

Topik Menarik