Miliarder Ini Simpan 98 Persen Kekayaan di Emas dan Perak, Hartanya Tembus Rp58 Triliun

Miliarder Ini Simpan 98 Persen Kekayaan di Emas dan Perak, Hartanya Tembus Rp58 Triliun

Terkini | inews | Minggu, 24 Mei 2026 - 04:20
share

JAKARTA, iNews.id - Investor legendaris logam mulia Eric Sprott kembali mencuri perhatian dunia. Pria berusia 81 tahun itu diketahui menempatkan sekitar 98 persen kekayaannya pada emas dan perak.

Melansir Forbes, total nilai kekayaan Sprott saat ini mencapai lebih dari 3,3 miliar dolar AS atau setara Rp58,42 triliun (kurs Rp17.710 per dolar AS). 

Diketahui, Sprott mulai berinvestasi di logam mulia sejak dekade 1980-an. Dalam dua tahun terakhir, nilai investasinya melonjak hampir empat kali lipat berkat reli harga emas dan perak global.

Saat diwawancarai Forbes pada akhir Januari ketika berada di San Jose, Kosta Rika, Sprott tetap optimistis meski harga logam mulia mengalami fluktuasi tajam. Kala itu, harga perak sempat menyentuh rekor 100 dolar AS per ons sebelum akhirnya turun drastis.

“Baik saham emas maupun perak masih sangat undervalued. Saya pikir harganya akan naik jauh lebih tinggi. Perak bisa mencapai 200 dolar AS bahkan 300 dolar AS per ons. Emas bisa menyentuh 10.000 dolar AS,” ujar Sprott dikutip, Sabtu (23/5/2026).

Beberapa hari kemudian, harga perak anjlok sepertiga menjadi 76 dolar AS per ons dan emas turun di bawah 5.000 dolar AS. Namun, Sprott mengaku tidak terganggu dengan gejolak tersebut.

Menurutnua, volatilitas harga merupakan hal wajar di tengah meningkatnya konflik global dan ketidakpastian ekonomi dunia yang membuat investor mencari aset aman.

Kemudian, Sprott juga menilai lonjakan harga emas dan perak dipicu kebijakan pemerintah yang dianggap terlalu boros dalam mencetak uang dan meningkatkan belanja negara.

“Saya rasa semua orang tahu pemerintah di berbagai negara terlalu tidak bertanggung jawab dalam sistem keuangan, mulai dari pencetakan uang hingga pengeluaran berlebihan,” ucapnya.

Keyakinan itulah yang membuat Sprott bukan hanya menimbun emas batangan, tetapi juga membeli saham di lebih dari 200 perusahaan tambang emas dan perak. Meski bukan ahli geologi, Sprott mengandalkan kemampuan membaca angka dan valuasi perusahaan tambang yang dianggap murah.

“Saya tidak tahu soal batuan, tapi saya paham angka. Kalau potensi keuntungannya besar, saya siap mengambil risiko,” tuturnya.

Saat ini, Sprott tercatat memiliki investasi di sekitar 120 perusahaan tambang, meski sebagian besar kekayaannya terkonsentrasi di kurang dari 10 perusahaan utama.

Salah satu investasi terbesar Sprott adalah Hycroft Mining Holding Corp dengan nilai kepemilikan sekitar 1,3 miliar dolar AS. Dia mulai masuk ke perusahaan tersebut pada 2019 ketika tambang emas dan perak di Nevada Utara belum beroperasi dan terlilit utang besar.

Sprott kemudian menyuntikkan dana lebih dari 360 juta dolar AS untuk membantu pembiayaan perusahaan. Langkah itu berbuah manis setelah saham Hycroft melonjak lebih dari 1.400 persen sejak awal 2025.

Selain Hycroft, investasi besar lainnya adalah Discovery Silver Corporation asal Ontario, Kanada. Sprott mulai membeli saham perusahaan tersebut pada 2019 dan terus menambah kepemilikan hingga mencapai 25 persen. 

Nilai investasinya ikut melejit setelah Discovery Silver mengakuisisi proyek tambang emas besar di Ontario pada Januari 2025. Ke depan, Sprott masih sangat yakin terhadap prospek perak karena permintaan global terus meningkat sementara pasokan terbatas.

Berdasarkan data Silver Institute, pasar perak dunia telah mengalami defisit selama lima tahun terakhir karena permintaan selalu lebih tinggi dibanding produksi.

Permintaan perak tidak hanya datang dari investor, tetapi juga industri teknologi seperti baterai, elektronik, kendaraan listrik, hingga panel surya.

Selain emas dan perak, Sprott juga mulai melirik mangan, logam yang dinilai berpotensi besar digunakan dalam baterai kendaraan listrik generasi baru.

Dia bahkan telah membeli saham di sejumlah perusahaan tambang mangan setelah membaca laporan Samsung pada akhir 2024 terkait pengembangan baterai kendaraan listrik berbasis mangan.

Meski kondisi geopolitik dunia memanas, termasuk konflik di Iran, Sprott mengaku tetap tenang dan tidak tertarik mengejar saham teknologi populer seperti Nvidia, Microsoft, maupun Apple.

Sebaliknya, dia memilih tetap fokus pada logam mulia seperti yang sudah dilakukannya selama lebih dari 40 tahun terakhir.

Topik Menarik