AS Tuduh WHO Telat Deteksi Ebola di Kongo, Renggut 100 Nyawa Lebih
WASHINGTON, iNews.id - Menteri Luar Negeri (Menlu) Amerika Serikat (AS) Marco Rubio menuduh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telat mengidentifikasi wabah Ebola yang mematikan di Republik Demokratik Kongo. Wabah Ebola strain baru di Kongo telah merenggut sedikitnya 100 nyawa.
AS, di masa pemerintahan Presiden Donald Trump, menghentkan pendanaan untuk badan PBB tersebut, bahkan menarik keanggotaan negara.
“Yang terdepan jelas adalah CDC (Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit) dan Organisasi Kesehatan Dunia, sayangnya agak terlambat mengidentifikasi hal ini,” kata Rubio, merespons pertanyaan jurnalis terkait wabah Ebola yang telah ditetapkan WHO sebagai darurat global, dikutip Rabu (20/5/2026).
Seorang pejabat Departemen Luar Negeri (Deplu) AS, saat dimintai penjelasan mengenai pernyataan Rubio itu, mengatakan WHO membutuhkan waktu 10 hari untuk mengonfirmasi wabah Ebola.
“Sekarang kita sudah 4 hari dalam merespons, seharusnya bisa 14 hari,” kata pejabat yang meminta identitasnya tak dipublikasikan itu, dikutip dari AFP.
"(WHO) Telah gagal berkali-kali. Jelas, semua orang sudah sangat familiar dengan apa yang mereka lakukan, menutupi pandemi Covid-19 untuk Partai Komunis China,” katanya, menambahkan.
WHO membantah tuduhan AS bahwa mereka terlalu lunak terhadap China atau membiarkan negara itu menyembunyikan wabah Covid.
Deplu AS pada Selasa (19/5/2026) mengumumkan akan mendanai hingga 50 pusat perawatan Ebola di Kongo atau Uganda melalui pendanaan awal sekitar 13 juta dolar AS.
Rubio mengatakan, sulit untuk mendatangi daerah-daerah terdampak Ebola karena berada di tempat yang sulit dijangkau akibat perang, saudara.









