AS Hentikan Relaksasi Sanksi Minyak Rusia, Harga Energi Terancam Naik
WASHINGTON, iNews.id - Amerika Serikat (AS) telah mengakhiri pengecualian sementara sanksi minyak Rusia setelah masa berlakunya resmi berakhir pada Sabtu (16/5/2026). Hal ini menghentikan pengecualian selama sebulan bagi pembeli global untuk membeli minyak mentah Rusia yang terperangkap di laut.
Melansir Al Jazeera, Presiden AS Donald Trump awalnya memperkenalkan pengecualian darurat untuk menstabilkan pasar energi global setelah guncangan pasokan yang parah.
Serangan AS dan Israel terhadap Iran memicu penutupan Selat Hormuz yang penting, menyebabkan lonjakan harga bahan bakar global. Penangguhan sementara memungkinkan konsumen utama, khususnya India, untuk menyerap minyak mentah Rusia yang terperangkap untuk mencegah krisis energi global yang parah.
Dengan berakhirnya pengecualian tersebut, ada kekhawatiran bahwa pasokan minyak global akan semakin ketat, yang dapat mendorong harga bahan bakar lebih tinggi.
Importir utama seperti India, yang telah meningkatkan pembelian minyak mentah Rusia hingga mencapai rekor tertinggi 2,3 juta barel per hari selama masa pengecualian, kini harus mencari pemasok alternatif.
Berakhirnya keringanan ini terjadi sehari setelah Senator Demokrat AS Jeanne Shaheen dan Elizabeth Warren secara terbuka mendesak pemerintahan untuk tidak memperpanjang keringanan tersebut.
Mereka menilai, kebijakan itu memberi pendapatan penting bagi Rusia untuk mendanai operasi militernya di Ukraina, sekaligus gagal menurunkan biaya bahan bakar bagi konsumen Amerika.
Perpanjangan keringanan awal merupakan bagian dari strategi Gedung Putih yang lebih luas untuk mengendalikan pasar energi global, yang telah melihat harga minyak bertahan di atau di atas 100 dolar AS per barel sejak pecahnya perang Iran pada 28 Februari.
Langkah tambahan yang diterapkan pemerintahan AS mencakup pinjaman darurat dari Cadangan Minyak Strategis (SPR) serta keringanan sementara regulasi pengiriman Jones Act.
Trump juga mengatakan kepada wartawan bahwa dirinya membahas kemungkinan pencabutan sanksi terhadap perusahaan-perusahaan China yang membeli minyak Iran saat bertemu Presiden China Xi Jinping di Beijing beberapa waktu lalu.
Para ahli menyebut, pergeseran ini kemungkinan akan mendorong patokan energi global ke atas dan dapat meningkatkan harga bensin AS, yang sudah rata-rata di angka 4,50 dolar AS per galon (3,8 liter). Baik harga minyak domestik maupun internasional telah berfluktuasi di sekitar atau di atas 100 dolar AS per barel sejak perang dimulai.









