Kisah Thio Bangun Craftote, Olah Eceng Gondok Jadi Produk Ekspor lewat Dukungan BRI

Kisah Thio Bangun Craftote, Olah Eceng Gondok Jadi Produk Ekspor lewat Dukungan BRI

Ekonomi | inews | Kamis, 7 Mei 2026 - 16:18
share

JAKARTA, iNews.id - Bagi Thio Siujinata, bisnis bukan semata mencari keuntungan. Pria berusia 55 tahun itu ingin menciptakan ruang yang memungkinkan orang bisa terhubung dengan seni, alam, dan komunitas.

Berbekal jiwa seni yang tumbuh sejak menimba ilmu di Jurusan Desain Grafis Fakultas Seni Rupa Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Thio mencoba peruntungan baru. Dia memberanikan diri meninggalkan kariernya sebagai agen asuransi yang menopang stabilitas kehidupan dan keluarganya selama dua dekade terakhir.

"Saya percaya bahwa setiap impian memiliki potensi untuk menjadi kenyataan jika kita berani mengambil langkah pertama dan tetap teguh," ujar Thio saat ditemui iNews.id pada Rabu (22/4/2026).

Perjalanan Membangun Usaha

Perjuangan Thio bermula pada 2021. Pandemi Covid-19 yang berkembang pesat saat itu menjadi momentum baginya melakukan refleksi mendalam. Dia merenungkan kembali perjalanan hidupnya. Hingga suatu hari, Thio tertarik dengan tanaman eceng gondok (Pontederia crassipes) yang tumbuh subur di sekitar lingkungan rumahnya.

Thio memandang eceng gondok yang selama ini kerap dianggap sebagai tanaman pengganggu memiliki potensi tersendiri. Dia melihat potensi tersembunyi dari serat eceng gondok yang dikenal kuat. Riset kecil-kecilan pun dilakukan.

Dia lalu mendapatkan inspirasi berbekal riset tersebut. Serat alam yang terkandung dalam eceng gondok ternyata kerap diolah menjadi kerajinan tangan dengan teknik anyaman tradisional. Dia mendapati sejumlah komunitas lokal menggunakan eceng gondok sebagai bahan dasar pembuatan tikar, tas, hingga beberapa produk rumah tangga.

"Kelebihannya adalah eceng gondok ini ketika dia hidup, dia bisa dirobek. Tapi kalau sudah kering, gak bisa dirobek," tutur Thio.

Merasa menemukan jati dirinya kembali, Thio mulai memproduksi berbagai produk anyaman berbahan serat alam eceng gondok. Tas, keranjang, hingga hiasan dinding dibuat. Thio merasakan lonjakan semangat ketika melihat sejumlah karyanya mulai terkumpul.

Kerajinan tangan yang dipajang di Craftote Gallery & Coffee. (Foto: Rizky Agustian)

Hanya saja, Thio tak cepat puas. Dia ingin karyanya berdampak lebih luas. Idenya membangun Craftote Gallery & Coffee terbesit sepulang dari Abhimata Mitrasamaya, panti asuhan yang biasa dibantunya di Pondok Aren, Tangerang Selatan. Saat itu, sang pemilik panti asuhan bertanya ke Thio soal peluang karier untuk anak asuhnya yang telah lulus sekolah.

"Kita kenal dengan ibu pantinya, karena sering ketemu ya seperti jadi kayak teman gitu. Lalu lama-kelamaan dia bilang gini, 'Pak Thio, anak-anak ada yang lulus, ada tiga anak, ada kerjaan gak buat mereka?' Saya bilang, 'Wah, gak ada,' gitu kan," tutur dia.

Dalam perjalanan pulang ke Tomang, Jakarta Barat, sang istri, Rika Christina, melontarkan ide untuk membangun usaha yang menyerap tenaga kerja dari panti asuhan. Thio setuju dengan ide tersebut, namun sempat kebingungan dengan bidang usaha yang akan dijalani. Jawabannya datang dari hal yang paling dekat dengan dirinya, seni rupa, dan dipadukan dengan kedai kopi atau coffee shop.

"Memang kita senang ngopi, ya sudah karena latar belakang saya seni rupa, akhirnya saya lirik kerajinan tangan. Karena saya memang idenya suka yang kreatif-kreatif gitulah," ucap Thio.

Craftote Gallery & Coffee pun dibangun di rumah milik kakak iparnya yang berlokasi di Jalan Tomang Rawa Kepa Nomor 37, Tomang, Grogol Petamburan, Jakarta Barat. Konsep yang diusung dibuat berbeda. Craftote tidak hanya menjual produk kerajinan, tetapi juga menghadirkan coffee shop sebagai pintu masuk. 

Craftote Gallery & Coffee. (Foto: Rizky Agustian)

Semula, Thio menyadari karyanya bukan produk biasa. Kerajinan berbahan serat alam ternyata punya pasar yang jauh lebih besar di luar negeri. Namun sebelum menembus pasar ekspor, dia ingin memperkenalkan produk itu lebih dulu ke pasar domestik.

Dia lalu menggandeng perajin di Yogyakarta berbekal informasi dari kakak iparnya yang juga menggeluti usaha serupa. Karya hasil para perajin tersebut berhasil dipasarkan ke luar negeri, salah satunya Amerika Serikat (AS). Thio pun melihat peluang.

"Nah akhirnya kita bikin Craftote. Nah Craftote-nya baru dikaitkan dengan yang tadi, karena ternyata kita pelajari bahwa ini ekspor gitu lho. Jadi kita harus kombinasi dengan sesuatu yang daya tarik, yaitu coffee shop. Makanya kita namain Craftote Gallery & Coffee," kata Thio.

Perkenalan dengan Rumah BUMN BRI

Perjalanan Craftote memasuki babak baru ketika Thio berkenalan dengan Rumah BUMN BRI Jakarta. Awalnya, keterlibatan itu tidak direncanakan. Namun setelah Craftote terdaftar sebagai usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta JakPreneur, Tim BRI datang melihat langsung usaha tersebut.

"Cuma yang lirik kita sungguh-sungguh itu BRI. BRI datang ke sini," ucap dia.

Dalam kunjungan itu, Tim BRI memberikan tantangan kepada Thio. Produk kopi Thio diikutkan dalam kompetisi yang hadiah utamanya adalah fasilitas coffee shop gratis di Rumah BUMN BRI. Thio awalnya skeptis dengan tantangan tersebut. Namun, keraguan itu perlahan memudar ketika melihat keseriusan pendampingan yang diberikan oleh Tim BRI.

Setelah produk yang dikompetisikan menang, Thio mendapat fasilitas yang dijanjikan. Dia mendapat tempat usaha di Rumah BUMN BRI, lengkap dengan fasilitas pendukung mulai dari meja, kursi, pendingin ruangan, hingga listrik dan air selama dua tahun. Thio diwajibkan membawa hasil kerajinan tangannya ke kedai tersebut, yang lalu disanggupi olehnya.

Galeri kerajinan tangan Craftote Gallery & Coffee. (Foto: Rizky Agustian)

Setelahnya, Thio mengikuti berbagai pelatihan, pameran, business matching, hingga kelas keuangan yang diselenggarakan Rumah BUMN BRI. Dia melihat peluang mengembangkan jejaring dengan mengikuti berbagai kelas yang disediakan bank pelat merah tersebut. Thio pun memberanikan diri membuka dua kedai lagi di Pos Bloc dan RS Pelni, Jakarta Pusat.

Namun, dia mulai menemukan kendala. Bisnisnya berkembang terlalu cepat tanpa terencana dengan matang hingga justru membuat keuangan bocor dan sistem operasional berantakan. Hingga sampai suatu saat, Thio terpaksa menutup dua kedai barunya itu. 

"Kayaknya ada yang salah nih, karena kita kan gak digaji. Waktu itu keuangan kita masih kacau. (Saya dan istri) duduk bareng-bareng coba periksa, di situlah kita sadar, boncos, habis berapa ratus juta gitu gak kecatat," kata Thio.

Keputusan untuk menutup dua gerai dan kembali fokus pada inti usaha menjadi titik balik Thio. Craftote lalu membenahi sistem, memperkuat posisi produk kerajinan, dan kembali memanfaatkan jejaring yang terbentuk lewat Rumah BUMN BRI. Dari sana, pintu ke panggung yang lebih besar mulai terbuka.

Menembus Pasar Luar Negeri

Jejaring dan pelatihan yang diterima Craftote tidak berhenti di level lokal. Melalui berbagai program yang diikuti bersama BRI, Thio mulai bertemu dengan pembeli, komunitas usaha, hingga lembaga pemerintah. Kesempatan itu kemudian membawanya pada pasar ekspor.

Thio mengungkapkan produk kerajinan tangan Craftote kini telah dipasarkan ke sejumlah negara, antara lain Kanada, Australia, Jepang, dan yang terbaru Inggris. Dia telah mengirim produk beberapa kali dengan buyer yang sama di pasar Kanada. 

Sementara di Inggris, pesanan yang awalnya hanya berupa sampel berkembang menjadi permintaan puluhan set produk. Ekspor yang dijalankan masih dalam skala less container load, tetapi bagi Thio sudah cukup menjadi penanda pasar menerima produknya.

Kerajinan tangan yang dipajang di Craftote Gallery & Coffee. (Foto: Rizky Agustian)

Tak hanya itu, Thio juga mengembangkan produk berbasis serat alam dengan pendekatan desain yang lebih modern. Dia tengah menyiapkan prototipe tas anyaman dengan sistem yang lebih praktis namun tetap kuat. 

"Makanya sempat nyesel juga kenapa baru tahu Rumah BUMN BRI ini di usia tua, kenapa bukan dari usia muda," tutur Thio.

Keunikan lini usaha yang menggabungkan kerajinan tangan dan kopi membuat pengunjung betah berlama-lama. Salah satunya Dea, mahasiswi asal Grogol Petamburan, Jakarta Barat.

Dia mengaku kerap singgah ke Craftote Gallery & Coffee. Menurut dia, lokasi usaha Thio menjadi tempat yang nyaman untuk mengerjakan tugas akhir.

"Lumayan, seringnya pas kerjain skripsi kayak sekarang. Tempatnya enak," ujar Dea kepada iNews.id.

Selain kenyamanan tempat, Dea juga mengapresiasi keunikan koleksi kerajinan tangan yang dipajang di Craftote Gallery & Coffee. 

"Desainnya unik, bagus. Produknya juga bagus," ucap dia.

Sementara itu, Corporate Secretary BRI Dhanny menyatakan BRI berkomitmen mendukung UMKM agar tumbuh berkelanjutan dan berdaya saing global. Dia mengatakan Rumah BUMN menyediakan ekosistem yang terintegrasi untuk mewujudkan dukungan tersebut.

Dhanny menuturkan Rumah BUMN BRI berfokus pada penguatan branding, business matching, hingga peningkatan kompetensi para UMKM. Langkah ini diharapkan mampu menjadikan UMKM sebagai motor penggerak ekonomi nasional.

“BRI melalui Rumah BUMN terus mendorong UMKM untuk tidak hanya bertahan, tetapi juga naik kelas melalui penguatan kapasitas usaha, perluasan akses pasar, dan pendampingan berkelanjutan,” ujar Dhanny.

Topik Menarik