Terungkap! Israel Sembunyikan Data Ribuan Tentara Dipecat gegara Gangguan Jiwa akibat Perang Gaza
TEL AVIV, iNews.id - Media Israel mengungkap, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menyembunyikan informasi soal pemecatan ribuan tentara dari dinas selama perang di Jalur Gaza. Mereka diberhentikan karena menderita gangguan kejiwaan.
Surat kabar Israel, Haaretz, melaporkan militer tidak mengungkap semua data mengenai jumlah tentara yang dipecat akibat kondisi mental mereka selama perang.
Haaretz meminta data lengkap kepada juru bicara IDF pada 2025, namun ditolak dengan alasan harus diajukan berdasarkan Undang-Undang Kebebasan Informasi Israel.
Permintaan data lengkap secara resmi diajukan pada awal Juni 2025, namun militer tak memberikan data yang diinginkan.
Keputusan IDF itu dianggap melanggar hukum, yang mengharuskan pihak berwenang menanggapi permintaan dalam waktu 30 hari, dengan perpanjangan maksimal 120 hari dalam kondisi khusus.
Menurut Haaretz, sebulan setelah permintaan diajukan, militer memberikan respons, yakni mengambil perpanjangan 30 hari lagi untuk memberikan tanggapan. Namun sampai batas waktu yang ditentukan, mereka tidak juga membagikan data tersebut.
Mengutip sumber para perwira Israel di direktorat personalia militer dan kantor juru bicara, Haaretz melaporkan IDF cenderung menunda perilisan data yang tidak memuaskan para komandan atau tidak sesuai dengan tujuannya.
Seorang perwira di direktorat personalia mengatakan, bahkan ada rekannya yang tahu cara memanipulasi angka dan persentase serta menyembunyikan informasi yang tidak memuaskan militer.
"Jika juru bicara militer membutuhkan informasi untuk membantah klaim jurnalistik atau politik, mereka melakukan segala upaya untuk mendapatkannya dalam hitungan jam," kata perwira tersebut.
Dia menegaskan, militer tidak ingin publik mengetahui sejauh mana tekanan psikologis yang dialami para prajurit di lapangan.
Sumber-sumber pejabat di departemen kesehatan mental militer yakin, militer memiliki alasan untuk menghindari publikasi data tentang fenomena tersebut karena besarnya skala, khawatir informasi tersebut mengganggu moral publik.
Militer Israel menangani jumlah prajurit yang menderita gangguan psikologis dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya sejak awal perang.
“Pada hari-hari awal, angkatan bersenjata dan Kementerian Pertahanan harus menangani jumlah kasus yang belum pernah terjadi sebelumnya, melibatkan tentara yang menderita tekanan psikologis berat,” kata Haaretz.
Banyak tentara yang terlibat dalam pertempuran selama pengepungan Gaza melaporkan tekanan mental serius dan mengatakan tidak bisa kembali bertempur.
Angkatan bersenjata secara signifikan meningkatkan jumlah petugas kesehatan mental, mendirikan pusat perawatan khusus, serta merahasiakan angka kasus bunuh diri yang meningkat dari publikasi resmi hingga akhir 2024.
Haaretz mencatat, hingga Juli 2025, berdasarkan data asosiasi Hatzlacha, militer setuju merilis data namun hanya mencakup tahun pertama perang. Berdasarkan data, 7.241 perwira dan tentara diberhentikan selama periode itu karena gangguan kejiwaan.
Sumber pejabat direktorat personalia angkatan bersenjata mengatakan, angka tersebut diyakini sebagai yang tertinggi yang pernah tercatat dalam sejarah militer Israel.









