Demo Sopir Truk Tolak Pembatasan Solar di Surabaya Ricuh, Jebol Pagar dan Lumpuhkan Jalan
SURABAYA, iNews.id – Ratusan sopir truk yang tergabung dalam Gerakan Sopir Jawa Timur (GSJT) mengepung kantor Pertamina di Jalan Jagir, Kota Surabaya, Rabu (29/4/2026). Aksi demonstrasi ini sempat diwarnai kericuhan saat massa yang emosi nekat mendobrak pagar dan merobohkan besi pembatas di depan kantor tersebut.
Akibat aksi ini, arus lalu lintas di sekitar lokasi lumpuh total lantaran para sopir memblokade jalan dengan memarkir ratusan armada truk mereka.
Suasana memanas terjadi ketika perwakilan massa menuntut untuk ditemui pihak manajemen Pertamina. Lantaran tak kunjung mendapat respons, sejumlah sopir mulai mendorong pagar kantor hingga jebol. Petugas TNI-Polri yang berjaga di lokasi langsung memperketat pengamanan untuk meredam kemarahan massa agar tidak merangsek masuk lebih jauh.
Sebelum tiba di kantor Pertamina, ratusan truk ini juga sempat melakukan konvoi besar-besaran di sepanjang Jalan Ahmad Yani, Surabaya, yang memicu kemacetan panjang di jalur utama pintu masuk Kota Pahlawan tersebut.
Tolak Pembatasan Solar
Koordinator aksi, Supriyono menegaskan, tuntutan utama para sopir adalah penghapusan pembatasan solar subsidi dan penghapusan sistem barcode bagi truk lintas provinsi maupun antar-pulau.
"Aturan pembatasan 200 liter per 24 jam itu sangat menyulitkan kami. Untuk pengiriman luar provinsi atau luar pulau, kami butuh 300 sampai 400 liter sehari. Kalau dibatasi, kinerja kami terhambat dan distribusi barang jadi molor," kata Supriyono di lokasi aksi, Rabu (29/4/2026).
Selain masalah kuota, para sopir juga mengeluhkan sulitnya mendapatkan solar subsidi saat berada di jalur distribusi luar Pulau Jawa.
Mereka menyebut, jikapun ada, harga solar di luar Jawa seringkali jauh lebih mahal dibandingkan harga resmi, yang tentunya mencekik biaya operasional para sopir.
GSJT mendesak Pertamina untuk menjamin ketersediaan BBM di seluruh jalur distribusi nasional tanpa sistem yang dianggap mempersulit kerja lapangan mereka. Hingga berita ini diturunkan, perwakilan massa masih melakukan audiensi dengan pihak Pertamina di bawah pengawalan ketat kepolisian.










