PSIM Yogyakarta Tertekan! 11 Laga Tanpa Kemenangan, Laga Lawan Persija Jadi Penentu
GIANYAR, iNews.id – PSIM Yogyakarta menghadapi tekanan besar jelang duel kontra Persija Jakarta setelah menjalani 11 laga tanpa kemenangan di Super League 2025-2026.
Laga pekan ke-29 itu akan digelar di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Rabu (22/4/2026) sore. Pertandingan ini menjadi terasa seperti laga tandang bagi PSIM meski berstatus tuan rumah.
Pemindahan venue dari Stadion Sultan Agung, Bantul, membuat Laskar Mataram kehilangan dukungan langsung suporter. Kondisi ini menjadi tantangan tambahan di tengah tren negatif tim.
PSIM tengah mengalami penurunan performa signifikan. Dalam tiga laga terakhir, mereka bahkan harus menelan kekalahan beruntun.
Situasi tersebut membuat posisi PSIM di klasemen terancam. Tim harus segera bangkit untuk tetap bertahan di papan tengah.
Pelatih Jean-Paul van Gastel mengakui tidak puas dengan hasil yang diraih timnya. Dia menilai performa PSIM belum sesuai harapan.
“Saya tidak khawatir dengan kelelahan pemain saya. Mereka semua bugar dan dalam kondisi baik karena sepanjang musim ini telah bekerja sangat keras. Satu-satunya hal yang menjadi perhatian saya adalah kami menelan terlalu banyak kekalahan. Saya tidak puas dengan hasil ini karena saya rasa kami bisa jauh lebih baik,” ujarnya dalam konferensi pers, Selasa (21/4/2026), dikutip dari situs resmi I.League.
Tren Buruk dan Kekecewaan Venue Netral
Jean-Paul van Gastel menilai timnya sebenarnya memiliki peluang untuk meraih kemenangan dalam beberapa laga terakhir. Namun, hasil akhir selalu tidak berpihak.
“Pada pertandingan-pertandingan putaran kedua, kami sebenarnya sudah sangat dekat dengan kemenangan, tapi hasilnya selalu menjadi negatif. Padahal kami sering berada di posisi unggul lebih dulu,” tuturnya.
Selain performa, faktor non-teknis juga memengaruhi persiapan tim. Pemindahan venue membuat PSIM harus bermain di luar Yogyakarta.
Pelatih asal Belanda tersebut tidak menyembunyikan kekecewaannya. Dia menilai laga melawan tim besar seharusnya bisa digelar di hadapan suporter sendiri.
“Mengecewakan pertandingan ini tidak bisa digelar di Yogyakarta. Ini sebenarnya adalah momen yang sudah lama ditunggu untuk melawan tim besar seperti Persija,” ucapnya.
Menurut dia, dukungan suporter di laga kandang memiliki dampak besar terhadap motivasi pemain. Atmosfer stadion biasanya menjadi energi tambahan bagi tim.
Meski begitu, PSIM tetap harus beradaptasi dengan kondisi yang ada. Fokus dan mentalitas menjadi kunci untuk menghadapi laga penting ini.
Pertandingan melawan Persija menjadi momen krusial bagi PSIM. Hasil positif dibutuhkan untuk menghentikan tren buruk sekaligus mengembalikan kepercayaan diri tim.










