Hari Diabetes Nasional, Indonesia Peringkat Kelima Penderita Terbanyak di Dunia
JAKARTA, iNews.id – Peringatan Hari Diabetes Nasional yang jatuh pada 18 April kembali menyoroti kondisi serius di Tanah Air. Indonesia tercatat masih berada di posisi kelima dunia dengan jumlah penderita diabetes terbanyak menurut data International Diabetes Federation (IDF).
Fakta ini menjadi peringatan penting bagi sistem kesehatan nasional. Pasalnya, angka penderita yang tinggi menunjukkan bahwa penanganan dan pencegahan diabetes masih perlu diperkuat secara menyeluruh.
Berdasarkan data IDF tahun 2021, sebanyak 537 juta orang dewasa usia 20 hingga 79 tahun di seluruh dunia hidup dengan diabetes. Artinya, satu dari 10 orang di dunia mengalami penyakit ini. Bahkan, diabetes juga menyebabkan sekitar 6,7 juta kematian atau satu orang meninggal setiap lima detik.
China menjadi negara dengan jumlah penderita diabetes terbesar, mencapai 140,87 juta orang. Diikuti India dengan 74,19 juta, Pakistan sebanyak 32,96 juta, dan Amerika Serikat 32,22 juta.
Indonesia menempati peringkat kelima dengan jumlah penderita mencapai 19,47 juta orang. Dari total populasi 179,72 juta penduduk, prevalensi diabetes di Indonesia berada di angka 10,6 persen.
Menanggapi kondisi tersebut, dr Kelvin Candiago MM, MARS, DABRM, dokter dan pengembang ekosistem kesehatan, menilai perlu adanya evaluasi dalam tata laksana diabetes tipe 2 di Indonesia. Dia menyoroti pendekatan yang selama ini masih berfokus pada pengobatan atau medicine-centric.
Dia menjelaskan pengendalian kadar gula darah saja tidak cukup tanpa disertai perbaikan sistem tubuh dan perubahan gaya hidup. Pendekatan konvensional dinilai belum mampu mencegah komplikasi jangka panjang secara optimal.
"Pendekatan medicine - centric sangat penting untuk stabilisasi kondisi awal, namun secara desain belum ditujukan untuk perbaikan pola hidup jangka panjang. Dalam penanganan diabetes berkelanjutan, medikasi seharusnya diposisikan sebagai jembatan, bukan tujuan akhir," kata dr Kelvin dalam keterangan persnya, Sabtu (18/4/2026).
Dia menekankan pentingnya kombinasi terstruktur antara pengobatan, nutrisi, serta pemantauan kondisi pasien dalam penanganan diabetes.
Sebagai solusi, dia memperkenalkan Protokol 3R, sebuah kerangka metodologis terdiri atas tiga tahap utama. Tahap pertama adalah Road to Rescue, yakni intervensi awal untuk menstabilkan lonjakan gula darah sekaligus menjadi dasar pemulihan.
Tahap kedua, Road to Reverse, berfokus pada perbaikan kondisi metabolik tubuh melalui perubahan gaya hidup dan intervensi klinis untuk menurunkan kadar HbA1c hingga normal.
Sementara tahap ketiga, Road to Remission, merupakan fase ketika pasien mampu mempertahankan kadar HbA1c di bawah atau sama dengan 6,5 persen secara berkelanjutan, baik dengan atau tanpa obat.
Protokol ini telah diterapkan melalui ekosistem layanan kesehatan terintegrasi mGanik. Berdasarkan data internal sejak 2023, sekitar 500 pasien diabetes berhasil mencapai tahap reverse. Dari jumlah tersebut, sekitar 7 hingga 10 persen pasien bahkan memenuhi kriteria klinis untuk masuk fase remisi diabetes.
"Melalui momentum Hari Diabetes Nasional ini, kami ingin menegaskan bahwa remisi bukanlah hasil instan yang bisa dipaksakan. Ini adalah peluang nyata dan terukur yang dapat dicapai apabila sistem dijalankan dengan tepat dan konsisten oleh pasien. Fokus kami di mGanik adalah memberikan harapan yang realistis dan kesempatan kedua bagi penyandang diabetes untuk mendapatkan kembali kualitas hidupnya," ujar dr Kelvin.
Sebagai informasi, mGanik merupakan ekosistem solusi kesehatan yang dirancang untuk membantu penderita diabetes dan penyakit metabolik. Pendekatan yang digunakan menggabungkan edukasi medis, pengaturan nutrisi, layanan klinis spesialis, serta pendampingan komunitas guna meningkatkan kualitas hidup pasien.










