Konsumsi Gula Berlebih Bikin Kasus Gagal Ginjal Meroket di Indonesia, Ini Faktanya!

Konsumsi Gula Berlebih Bikin Kasus Gagal Ginjal Meroket di Indonesia, Ini Faktanya!

Terkini | inews | Rabu, 15 April 2026 - 16:22
share

JAKARTA, iNews.id – Konsumsi gula, garam, dan lemak (GGL) berlebih ternyata tidak hanya berdampak pada kesehatan individu, tetapi juga membebani sistem kesehatan nasional. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) membeberkan faktanya.

Kemenkes mengungkapkan, salah satu dampak paling nyata adalah melonjaknya kasus gagal ginjal di Indonesia. Masalah kesehatan ini memberi beban cukup berat bagi sistem kesehatan nasional.

Berdasarkan data yang disampaikan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, beban pembiayaan untuk penyakit gagal ginjal meningkat lebih dari 400 persen. Pada 2019, biaya yang dikeluarkan tercatat sebesar Rp2,32 triliun, namun melonjak drastis menjadi Rp13,38 triliun pada 2025.

Lonjakan ini tidak lepas dari pola konsumsi masyarakat yang tinggi gula, garam, dan lemak. Kebiasaan tersebut berkontribusi pada munculnya berbagai penyakit tidak menular seperti obesitas, hipertensi, penyakit jantung, stroke, hingga diabetes tipe 2.

"Kondisi ini menunjukkan pentingnya edukasi kepada masyarakat agar lebih bijak dalam memilih makanan dan minuman," ujar Menkes.

Sebagai langkah pencegahan, Kemenkes kini menerbitkan aturan baru yang mendorong transparansi kandungan gizi, khususnya pada minuman berpemanis siap saji.

Ya, Kemenkes menerbitkan aturan pencantuman label gizi berupa Nutri Level pada pangan siap saji, terutama minuman berpemanis, yang akan diterapkan pada usaha skala besar. Aturan ini dikeluarkan sebagai upaya mendorong pola konsumsi masyarakat yang lebih sehat.

Aturan tersebut tertuang dalam Keputusan Menteri Kesehatan (KMK) Nomor HK.01.07/MENKES/301/2026 tentang pencantuman label gizi dan pesan kesehatan pada pangan siap saji. Aturan diterbitkan pada Selasa (14/4/2026).

KMK ini di tahap awal tidak menargetkan usaha siap saji skala mikro, kecil dan menengah seperti warteg, gerobak dan restaurant kecil atau sederhana.

Minuman pemanis siap saji, sebagai contoh boba, teh tarik, kopi susu aren, jus, yang dibuat oleh usaha skala besar diminta untuk mencantumkan label gizi dan pesan kesehatan berupa Nutri Level yang dicantumkan pada media informasi sebagai upaya edukasi kepada masyarakat, terutama untuk mengurangi konsumsi minuman berpemanis secara berlebihan.

Media informasi sebagaimana dimaksud berupa pencantuman di daftar menu, kemasan eceran, brosur, spanduk, selebaran, daftar menu pada aplikasi elektronik komersial, leaflet, dan/atau bentuk media informasi lainnya. 

Topik Menarik