Kapten Timnas Putri Iran Kena Sanksi Brutal, Aset Disita usai Tolak Lagu Kebangsaan
TEHERAN, iNews.id - Kapten Timnas Putri Iran Zahra Ghanbari menerima sanksi berat berupa penyitaan aset setelah namanya masuk daftar “pendukung musuh” oleh pemerintah Iran.
Zahra Ghanbari termasuk dalam 400 warga Iran yang diumumkan dalam daftar tersebut pada akhir pekan lalu. Pemerintah Iran menargetkan individu yang dinilai memiliki keterkaitan dengan pihak luar serta kelompok oposisi di luar negeri.
Selain tokoh media, daftar itu juga memuat sejumlah atlet, aktor, dan eksekutif ternama. Ghanbari menjadi salah satu nama paling mencolok karena statusnya sebagai kapten tim nasional dengan 22 caps.
Dalam perkembangan terbaru, seluruh aset milik Ghanbari disita. Langkah ini mencakup pengosongan rekening bank hingga penyitaan properti bergerak dan tidak bergerak.
Kasus ini bermula saat timnas putri Iran tampil di Piala Asia di Australia pada akhir Februari. Dalam laga melawan Korea Selatan pada 2 Maret, para pemain melakukan aksi diam dengan menolak menyanyikan lagu kebangsaan.
Aksi tersebut berujung pada cap “pengkhianat masa perang” dari media dalam negeri Iran. Tekanan pun meningkat, termasuk ancaman terhadap para pemain dan keluarga mereka.
Salah satu pemain dilaporkan menerima pesan suara dari ibunya yang berbunyi: “Jangan kembali [ke Iran]… mereka akan membunuhmu.” Pesan lain yang dikirim keluarga pemain juga berbunyi: “Kamu harus tetap tinggal.”
Pemerintah Australia sempat menawarkan suaka kepada tim karena kekhawatiran terhadap keselamatan mereka. Sejumlah pemimpin dunia juga ikut menyuarakan perlindungan, termasuk Donald Trump yang memperingatkan risiko fatal jika para pemain kembali ke Iran.
Ghanbari bersama enam rekan setim awalnya menerima visa kemanusiaan. Namun, beberapa hari kemudian mereka membatalkannya. Keputusan tersebut disebut dipengaruhi ancaman terhadap keluarga mereka di Iran.
Empat pemain lain juga memilih kembali ke Iran, sementara dua pemain masih bertahan di Australia. Kepulangan Ghanbari sempat digambarkan media pemerintah sebagai tindakan patriotik.
Media pemerintah IRNA menyebut dia “kembali ke pelukan tanah air”, sedangkan kantor berita Mehr menilai langkah tersebut sebagai “keputusan patriotik”. Otoritas juga sempat memberi jaminan tidak ada hukuman.
Namun, penyitaan aset yang kini terjadi menunjukkan perubahan sikap. Selain Ghanbari, sejumlah figur publik lain berpotensi menerima sanksi serupa, termasuk aktor Hamid Farokhnezhad, penyanyi Ashkan Khatibi dan Mazyar Fallahi, serta presenter Parastoo Salehi.










