Orang dengan Gangguan Jiwa di Indonesia Terus Bertambah, Ini Faktanya!

Orang dengan Gangguan Jiwa di Indonesia Terus Bertambah, Ini Faktanya!

Terkini | inews | Selasa, 7 April 2026 - 15:31
share

JAKARTA, iNews.id - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkapkan data terbaru terkait prevalensi gangguan jiwa di Indoneaia. Benarkah semakin banyak orang dengan gangguan jiwa di Indonesia? 

Menurut Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi, tren gangguan mental di masyarakat menunjukkan peningkatan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini terlihat dari naiknya angka kematian akibat bunuh diri serta lonjakan permintaan layanan krisis kesehatan jiwa.

Berdasarkan data kepolisian, tercatat sebanyak 1.350 kasus kematian akibat bunuh diri pada 2023. Angka tersebut meningkat menjadi 1.450 kasus pada 2024.

Tak hanya itu, layanan krisis kesehatan jiwa juga mengalami tekanan yang semakin besar. Layanan Sejiwa 119 mencatat peningkatan jumlah panggilan yang cukup tajam, dari sekitar 400 panggilan per hari pada Agustus 2025 menjadi sekitar 550 panggilan per hari pada 2026.

"Angka ini menunjukkan bahwa semakin banyak masyarakat yang mengalami krisis kesehatan jiwa, sekaligus meningkatnya kesadaran untuk mencari bantuan," ujar Imran dalam keterangan resminya, Selasa (7/4/2026).

Namun demikian, dia mengingatkan bahwa situasi ini juga menjadi alarm serius. Di tengah meningkatnya kebutuhan layanan, paparan konten publik yang tidak sensitif terhadap isu kesehatan mental justru berpotensi memperburuk kondisi kelompok rentan.

Imran mencontohkan kontroversi banner film Aku Harus Mati yang dinilai memuat pesan provokatif. Menurutnya, penyajian tema bunuh diri tanpa kehati-hatian dapat memicu peniruan, terutama pada individu yang sedang berada dalam kondisi psikologis rapuh.

"Ketika bunuh diri disajikan seolah sebagai solusi atau pembebasan, hal itu bisa ditangkap sebagai legitimasi oleh orang yang sedang putus asa," katanya.

Ia menjelaskan bahwa paparan berulang terhadap konten yang meromantisasi bunuh diri dapat menurunkan ambang resistensi seseorang terhadap tindakan tersebut, khususnya bagi mereka yang memiliki riwayat depresi, trauma, atau impulsivitas.

Lebih lanjut, penelitian tentang fenomena suicide exposure menunjukkan bahwa satu kasus bunuh diri dapat berdampak pada sekitar 135 orang di sekitarnya, baik secara emosional maupun psikologis.

Karena itu, Kemenkes menekankan pentingnya tanggung jawab bersama dalam menyikapi isu ini, mulai dari industri kreatif, media, hingga pengelola ruang publik.

Imran mendorong agar setiap konten yang berkaitan dengan kesehatan jiwa disajikan secara hati-hati, dengan menekankan konteks, faktor penyebab yang kompleks, serta informasi mengenai akses bantuan.

"Media memiliki peran penting. Jika disajikan dengan benar, pesan yang beredar justru bisa menjadi alat pencegahan yang menyelamatkan nyawa," ujarnya.

Ia menambahkan, meningkatnya angka kasus dan permintaan layanan harus menjadi momentum untuk memperkuat sistem kesehatan jiwa di Indonesia, sekaligus memperbaiki cara komunikasi publik agar lebih bertanggung jawab.

Topik Menarik