Harga Minyak Dunia Berpotensi Tembus 116 Dolar AS per Barel, Ini Pendorongnya

Harga Minyak Dunia Berpotensi Tembus 116 Dolar AS per Barel, Ini Pendorongnya

Ekonomi | inews | Senin, 6 April 2026 - 01:15
share

JAKARTA, iNews.id - Harga minyak mentah dunia diprediksi melanjutkan tren penguatan pada pekan depan. Hal ini seiring meningkatnya ketegangan geopolitik global yang berpotensi mengganggu pasokan energi. 

Analis Keuangan, Ibrahim Assuaibi menyebut, minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) bahkan diperkirakan dapat menembus level 116 dolar AS per barel. 

Lonjakan harga minyak dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan sejumlah negara dan kelompok milisi. Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap stabilitas distribusi minyak global. 

“Ketegangan di Timur Tengah berpotensi mengganggu jalur distribusi energi, terutama di kawasan strategis seperti Selat Hormuz. Jika itu terjadi, harga minyak bisa melonjak signifikan,” kata Ibrahim dalam keterangannya, Minggu (5/4/2026).

Dia menambahkan, pergerakan harga minyak pada pekan depan diperkirakan berada dalam rentang yang lebih lebar, dengan kecenderungan menguat dari kisaran 99 dolar AS hingga menuju 116 dolar AS per barel. Kenaikan ini didorong oleh sentimen geopolitik yang masih dominan dibandingkan faktor fundamental lainnya.

Selain faktor konflik, penguatan dolar AS juga turut memengaruhi dinamika pasar minyak. Meski dolar yang kuat biasanya menekan harga komoditas, dalam kondisi ketidakpastian tinggi, harga minyak tetap cenderung naik karena kekhawatiran terhadap pasokan.

Ibrahim menuturkan, meningkatnya risiko geopolitik membuat pelaku pasar memperhitungkan kemungkinan gangguan produksi dan distribusi minyak dari kawasan Timur Tengah yang merupakan salah satu pemasok utama energi dunia.

“Pasar saat ini sangat sensitif terhadap isu geopolitik. Sedikit saja ada eskalasi, harga minyak langsung merespons naik,” ucapnya.

Lebih lanjut, dia menilai lonjakan harga minyak akan berdampak luas terhadap perekonomian global, termasuk meningkatkan tekanan inflasi dan memperbesar beban impor energi bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia.

Kenaikan harga minyak juga berpotensi memicu efek domino terhadap sektor lain, mulai dari transportasi hingga harga barang dan jasa. Hal ini dapat memperbesar tekanan terhadap daya beli masyarakat jika tidak diantisipasi dengan kebijakan yang tepat.

Dengan kondisi tersebut, pelaku pasar dan pemerintah diimbau untuk mencermati perkembangan geopolitik serta pergerakan harga energi global, mengingat volatilitas diperkirakan masih akan tinggi dalam beberapa waktu ke depan.

Topik Menarik