Cerita Yusuf dan Tifani, Ayah-Anak Mudik Bandung-Tasik 6 Jam Boncengan Naik Motor
TASIKMALAYA, iNews.id - Mata Yusuf menatap ke arah jalan tanpa berkedip sekali pun. Tangan kirinya berisi botol minuman air putih dan tangan sebelah lagi menggenggam sehelai roti.
Di sampingnya, anak Yusuf bernama Tifani terus memperhatikan bapaknya. Mereka berteduh di lapak pinggir jalan tepat di perbatasan Kabupaten Tasikmalaya dan Garut, Jawa Barat.
Minggu (15/3/2026) siang itu, mereka terpaksa membatalkan puasa saat perjalanan mudik baru sekitar tiga jam dari titik berangkat di Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Mereka menempuh perjalanan mudik menuju Tasikmalaya bagian selatan dengan kendaraan roda dua. Jika tak ada aral melintang, prediksi perjalanan memakan waktu enam jam sampai kampung halaman.
Bukan terik matahari yang memicu dahaga dan lemas, tapi suatu insiden jalanan. Bagian depan motor yang dikendarai Tifani bersenggolan dengan bus saat perjalanan memasuki kawasan Limbangan, Garut. Sontak motor terguncang sehingga Tifani hilang kendali.
Yusuf yang dibonceng putrinya lantas tersungkur ke panasnya aspal siang itu. Jari telunjuk dan tengah Yusuf terluka. Seturut itu, kaki sebelah kanan ikut menghantam aspal.
"Setangnya belok sampai bingkang. Terus, sayapnya motor sampai copot," kata Tifani menjelaskan kondisi motor Grand Astrea yang ditunggangi.
Kondisi Tifani sebaliknya, tanpa luka dan memar. Ayahnya selain luka di jari dan lutut, tampak pergelangan tangan membengkak. Jari Yusuf dibalut perban, tapi memar di kaki dan tangan belum diobati.
"Nanti saja di kampung diurut," kata Yusuf membalas saya yang melihat bengkak di tangan.
Keduanya lantas melanjutkan perjalanan dari Garut setelah motor diservis. Upaya menuju bengkel tak mudah bagi Yusuf yang terluka. Kakinya berjalan gontai sembari membantu putrinya mendorong motor.
Yusuf berupaya menyuap makanan secara perlahan menggunakan tiga jari kanannya yang selamat dari luka. Tubuhnya mesti diisi makanan lantaran ada obat antibiotik yang harus diminum.
Sesaat setelah obat diminum, Yusuf kembali menggendong ranselnya. Sobekan di celana sebelah kanan bekas kecelakaan dibiarkan terbuka. Baginya, perjalanan ke kampung harus terus berlanjut.
Mudik tahun ini menjadi spesial baginya karena kali pertama bersama sang anak. Tifani baru menginjak tahun pertamanya sebagai mahasiswa di kampus negeri di Kota Bandung. Sedang Yusuf mencari nafkah sejak 10 tahun lampau di Baleendah sebagai penjahit pabrikan.
Yusuf masih ingat betul ponselnya berdering saat Tifani mengirim pesan untuk mengajak mudik. Yusuf yang saat itu meyitir benang sontak menerima ajakan. Dia ingin segera mewujudkan momen mudik bersama lantaran selama ini selalu sendiri di tanah rantau dan pulang ke kampung seorang dengan bus.
"Teteh libur tanggal berapa?" kata Yusuf yang ingat balasan pesannya ke sang putri.
Bagi Tifani, mudik ke Tasik tiap tahun selama dia kuliah di Bandung menjadi penting. Hambatan macam insiden di jalanan tak menyurutkan tekadnya mudik bersama bapak. Melaju berdua mudik dengan motor tuanya dimaknai betul oleh Tifani dan Yusuf.
Sebab, mudik bukan perkara berkumpul dengan orang terkasih di rumah, tapi bagaimana cerita perjalanan yang tak akan lekang di ingatan.
"Pentingnya mudik pasti semua orang ingin lah berkumpul sama keluarga," kata Tifani.
Usai keduanya bercerita, motor kembali diengkol. Tifani tetap di setang kendali, dengan ransel yang disangkutkan di batang penghubung sayap motor. Yusuf lalu melambai dengan luka di dua jarinya kala motor bergegas masuk jalan raya.










