Dokter Ingatkan Pasien Kanker Anak Tetap Perlu Main Bersama Keluarga, Ini Alasannya!

Dokter Ingatkan Pasien Kanker Anak Tetap Perlu Main Bersama Keluarga, Ini Alasannya!

Gaya Hidup | inews | Minggu, 15 Februari 2026 - 14:46
share

JAKARTA, iNews.id — Pasien kanker anak tidak cukup hanya dinyatakan sembuh secara medis. Ada aspek psikologis hingga sosial yang penting untuk diperhatikan orang tua pasien kanker anak. 

Nah, Dokter Spesialis Anak Konsultan Hematologi Onkologi Anak, dr. Endang Windiastuti, SpA, SubspHO (K), menegaskan bahwa proses pemulihan juga harus mencakup aspek psikologis, sosial, dan spiritual, termasuk aktivitas sederhana seperti bermain bersama keluarga.

Menurut dr Endang, target utama pengobatan kanker memang kesembuhan. Namun, kesembuhan saja belum cukup untuk memastikan anak dapat tumbuh menjadi generasi penerus bangsa yang berkualitas.

"Sembuh saja tidak cukup. Kita harapkan mereka menjadi anak yang berkualitas. Bahkan kalau ada gejala sisa, dengan monitoring rutin masih bisa kita atasi," ujarnya dalam peringatan Hari Kanker Anak Internasional (HKAI) di Jakarta.

Dia menjelaskan, kemoterapi dan terapi medis bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan pemulihan. Anak hanya menjalani perawatan intensif di rumah sakit sekitar 5–10 hari dalam satu siklus terapi. Selebihnya, mereka menghabiskan waktu di rumah dan lingkungan sekitar.

dr Endang Windiastuti SpA, Subsp HO (K). (Foto: Istimewa)

Di sinilah peran keluarga menjadi sangat krusial. Ya, dr Endang menekankan dunia anak identik dengan bermain. Aktivitas bermain bukan sekadar hiburan, melainkan bagian penting dari pemulihan mental dan sosial pasien kanker anak.

"Aspek sosial ini sering kali terlupakan. Selain medis, orang tua perlu mengedepankan aspek sosial dengan mengajak anak bermain secara rutin," jelasnya.

Pendekatan multidisiplin yang menggabungkan terapi medis dengan dukungan sosial-keluarga ini terbukti memberikan dampak lebih signifikan dibandingkan pendekatan medis saja. Dalam penelitian yang dilakukan di rumah sakit, dukungan keluarga menjadi faktor yang paling berpengaruh terhadap kualitas pemulihan anak.

"Kami pernah melakukan penelitian di rumah sakit, bahwa dengan pendekatan multidisiplin yang menggabungkan aspek medis dan dukungan sosial-keluarga, lalu dibandingkan dengan pendekatan medis saja, ternyata aspek yang paling berdampak signifikan adalah dukungan keluarga," ungkap dr Endang.

Keterlibatan keluarga besar juga dinilai penting, mengingat budaya Indonesia yang banyak menganut sistem keluarga besar (extended family). Dukungan emosional, perhatian, dan interaksi positif membantu anak membangun kembali rasa percaya diri setelah menjalani pengobatan panjang.

Ketua Yayasan Onkologi Anak Indonesia (YOAI) Rahmi L Adi Putra. (Foto: Istimewa)

Tantangan Pasien Pasca Remisi

Senada dengan hal tersebut, Ketua Yayasan Onkologi Anak Indonesia (YOAI), Rahmi L Adi Putra, mengungkapkan, program pemulihan kini menjadi fokus utama organisasi.

Menurut dia, tidak sedikit survivor kanker anak yang sudah dinyatakan remisi dan kembali bersekolah justru menghadapi perlakuan tidak menyenangkan dari teman sebayanya. Kondisi ini dapat memengaruhi kondisi psikologis anak dan berpotensi menghambat proses pemulihan secara menyeluruh.

"Pengobatan tentu sangat penting, tetapi setelah pengobatan, program pemulihan juga tidak kalah penting," tambahnya.

Topik Menarik