87 Dana BPJS Kesehatan Habis untuk Penyakit Kronis, Cek Kesehatan Gratis Jadi Rem!

87 Dana BPJS Kesehatan Habis untuk Penyakit Kronis, Cek Kesehatan Gratis Jadi Rem!

Gaya Hidup | inews | Rabu, 11 Februari 2026 - 18:57
share

JAKARTA, iNews.id - BPJS Kesehatan terus menanggung lonjakan biaya pengobatan penyakit kronis yang kian mengkhawatirkan. Ironisnya, sebagian besar kasus bisa dicegah sejak dini.

Data terbaru menunjukkan 87 persen beban BPJS Kesehatan terserap untuk layanan di fasilitas kesehatan tingkat lanjut, artinya untuk pasien yang sudah dalam kondisi berat dan membutuhkan perawatan mahal. 

Dalam periode 2019 hingga 2025, beban BPJS Kesehatan melonjak Rp81,8 triliun atau naik 75,5 persen. Kenaikan terbesar terjadi pada layanan rujukan lanjutan yang mencapai Rp73,8 triliun.

Penyakit kronis menjadi penyumbang utama. Pembiayaan penyakit jantung naik dari Rp10,28 triliun menjadi Rp17,35 triliun. Gagal ginjal melonjak paling drastis, hingga 476,2 persen—dari Rp2,32 triliun menjadi Rp13,38 triliun. Kanker meningkat 170,2 persen, stroke 182,9 persen, talasemia 67,6 persen, dan hemofilia 124,2 persen.

Angka-angka ini bukan sekadar statistik anggaran. Di baliknya ada jutaan peserta BPJS yang terlambat menyadari kondisi kesehatannya.

Menkes Budi menyebut, pasien kronis yang BPJS-nya nonaktif, akan mengancam nyawa. (Foto: Youtube TVR Parlemen)

Penyakit Berat Berawal dari Hal yang Diabaikan

Tekanan darah tinggi, gula darah tidak terkontrol, dan kolesterol tinggi menjadi tiga pemicu utama penyakit jantung, stroke, serta gagal ginjal. Masalahnya, kondisi tersebut sering tidak menimbulkan gejala berarti.

Banyak orang merasa sehat, hingga suatu hari terserang stroke mendadak atau harus menjalani cuci darah seumur hidup.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menekankan pentingnya memperkuat pendekatan promotif dan preventif agar masyarakat tidak terjebak pada fase sakit berat yang membutuhkan biaya besar.

Jika hipertensi terdeteksi lebih awal dan obat diminum teratur, risiko stroke bisa ditekan. Jika diabetes dikontrol disiplin, ancaman gagal ginjal dapat dicegah. Namun tanpa kepatuhan, deteksi dini tidak akan berdampak besar.

“Kami sebagai pemerintah ingin mengurangi beban kesehatan ke depan dan memperbaiki kualitas hidup masyarakat," kata Menkes Budi Gunadi Sadikin dalam keterangan resminya, Rabu (11/2/2026).

"Pemerintah dan BPJS harus lebih mendorong masyarakat untuk cek kesehatan gratis. Jika tekanan darah tinggi, obat harus diminum secara teratur sehingga tidak berujung pada stroke atau serangan jantung," tambah Menkes.

Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono memantau CKG di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Mulia 3. (Foto: Mei Sada Sirait)

Program Cek Kesehatan Gratis Bisa Jadi Rem!

Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) digulirkan sebagai strategi untuk memutus rantai tersebut. Pemeriksaan dilakukan lebih masif agar faktor risiko teridentifikasi lebih cepat.

Ya, selama ini pembiayaan BPJS didominasi oleh penyakit katastropik yang sebenarnya bisa dicegah jika deteksi dini berjalan optimal. Karena itu, program CKG tidak berhenti pada tahap pemeriksaan, tetapi juga diarahkan pada penanganan lanjutan yang lebih disiplin.

“Melalui program Cek Kesehatan Gratis tahun ini, kami akan fokus pada tata laksana, bukan hanya pemeriksaannya. Tujuannya agar masyarakat benar-benar menjadi lebih sehat," jelas Menkes.

Namun tantangan terbesarnya ada pada tindak lanjut. Data awal menunjukkan hanya sekitar 8 persen peserta yang benar-benar melanjutkan pengobatan setelah hasil pemeriksaan menunjukkan risiko penyakit. Artinya, banyak orang sudah tahu dirinya berisiko, tetapi tidak mengubah pola hidup atau tidak rutin minum obat.

Tahun ini, pemerintah berupaya memperkuat pengawasan dan tata laksana pasca-pemeriksaan agar CKG tidak berhenti sebagai program seremonial, melainkan benar-benar menurunkan angka penyakit kronis.

Mengapa Ini Penting untuk Peserta BPJS?

Bagi peserta BPJS, langkah preventif bukan sekadar membantu negara menekan biaya. Ini soal menjaga kualitas hidup. Ketika penyakit sudah memasuki fase berat, perawatan menjadi panjang dan kompleks, ketergantungan pada rumah sakit meningkat, produktivitas menurun, dan risiko kematian lebih tinggi

Sebaliknya, dengan cek kesehatan rutin, minum obat teratur, memperbaiki pola makan, rutin bergerak, dan berhenti merokok, risiko komplikasi bisa ditekan signifikan.

Lonjakan biaya BPJS Kesehatan menjadi alarm bahwa sistem kesehatan tidak bisa terus bertumpu pada pengobatan tahap akhir. Tanpa perubahan perilaku masyarakat, tekanan terhadap BPJS Kesehatan akan semakin besar.

Cek Kesehatan Gratis (CKG) pada akhirnya bukan sekadar program pemerintah. CKG adalah kesempatan bagi peserta BPJS untuk menggunakan haknya lebih awal, bukan saat sudah darurat, tetapi ketika masih bisa mencegah penyakitnya.

Topik Menarik