Mengenal Perjanjian Nuklir AS-Rusia New START yang Sudah Tak Berlaku
WASHINGTON, iNews.id - Dunia internasional menyoroti berakhirnya perjanjian pengendalian senjata nuklir New START antara Amerika Serikat (AS) dan Rusia. Berakhirnya kesepakatan ini pada Rabu (4/2/2026) menandai berakhir pula satu-satunya perjanjian utama yang selama lebih dari satu dekade membatasi persenjataan nuklir dua kekuatan terbesar dunia.
New START atau New Strategic Arms Reduction Treaty ditandatangani pada 2010 oleh Presiden AS Barack Obama dan Presiden Rusia Dmitry Medvedev. Perjanjian ini mulai berlaku pada 2011 dan bertujuan mengurangi serta membatasi jumlah senjata nuklir strategis kedua negara.
Dalam kesepakatan tersebut, AS dan Rusia sepakat membatasi jumlah hulu ledak nuklir strategis yang dikerahkan masing-masing maksimal 1.550 unit. Selain itu, perjanjian ini juga membatasi jumlah peluncur dan kendaraan pengantar senjata nuklir strategis, seperti rudal balistik antarbenua, rudal yang diluncurkan dari kapal selam, dan pembom berat.
Salah satu pilar penting New START adalah mekanisme verifikasi dan inspeksi timbal balik. Kedua negara diberi hak untuk melakukan inspeksi di lokasi militer guna memastikan kepatuhan terhadap batasan yang telah disepakati. Mekanisme ini dinilai krusial untuk menjaga transparansi dan mencegah salah perhitungan strategis.
Perjanjian New START semula berlaku selama 10 tahun dan kemudian diperpanjang hingga 2026. Namun, hubungan AS dan Rusia yang memburuk dalam beberapa tahun terakhir, terutama setelah perang Ukraina, membuat implementasi perjanjian ini tersendat.
Rusia menangguhkan partisipasinya dalam inspeksi New START dan menolak akses pemeriksa AS ke fasilitas nuklirnya. Sebaliknya, Washington menuding Moskow melanggar ketentuan perjanjian. Ketegangan tersebut akhirnya berujung pada berakhirnya New START tanpa kesepakatan lanjutan.
Dengan berakhirnya perjanjian ini, AS dan Rusia kini tidak lagi terikat secara hukum pada batas jumlah hulu ledak nuklir strategis. Kondisi ini memicu kekhawatiran akan munculnya perlombaan senjata nuklir baru dan meningkatnya risiko ketidakstabilan global.
Para pakar dan aktivis pengendalian senjata menilai, ketiadaan New START menghilangkan transparansi dan prediktabilitas dalam hubungan nuklir kedua negara. Padahal, AS dan Rusia bersama-sama menguasai lebih dari 80 persen hulu ledak nuklir dunia.
Berakhirnya New START juga menjadi alarm bagi komunitas internasional akan rapuhnya rezim pengendalian senjata nuklir global. Tanpa kesepakatan pengganti, dunia dinilai memasuki fase baru yang lebih berisiko dalam sejarah persaingan nuklir antarnegara besar.










