Geger! Pria Australia Didakwa Lakukan Kejahatan Seks terhadap Ratusan Anak di 15 Negara
SYDNEY, iNews.id - Kepolisian Australia mendakwa seorang pria atas tuduhan kejahatan seksual terhadap ratusan anak di dalam negeri dan 15 negara lainnya. Pria bernama Ethan Burns-Dederer (27) asal Maryborough itu ditangkap sejak Februari 2025 dalam kasus yang membuat heboh Negeri Kangguru.
Kepolisian Queensland menyatakan, Ethan didakwa dengan 596 tuduhan kejahatan seksual setelah polisi menemukan lebih dari 23.000 video dan foto dugaan pelecehan di perangkat elektroniknya.
Ethan menghadapi 244 dakwaan memproduksi materi pelecehan anak, 163 dakwaan menggunakan layanan komunikasi untuk menjerat anak di bawah usia 16 tahun, serta 87 dakwaan melakukan aktivitas seksual dengan anak menggunakan layanan komunikasi.
Pejabat kepolisian Queensland Denzil Clark mengatakan, dari volume video dan foto yang sangat banyak tersebut, proses identifikasi para korban membutuhkan waktu dan komitmen panjang. Bahkan penyelidikan belum rampung meski telah dibuka hampir setahun lalu.
“Kami melihat peningkatan prevalensi anak-anak yang dirayu, dipaksa, atau diancam untuk mengambil dan mengirim gambar seksual mereka, seringkali melalui aplikasi, game, dan situs media sosial populer. Trauma yang ditimbulkan pada anak sangat signifikan,” katanya, dikutip Jumat (6/2/2026).
Sebanyak 360 korban telah diidentifikasi dan penyelidikan untuk sisanya masih berlangsung.
Clark menambahkan, lebih dari 200 korban merupakan warga Australia, sedangkan sisanya dari luar negeri, terutama negara-negara berbahasa Inggris.
Kepolisian Australia telah bekerja sama dengan mitra internasional untuk mengidentifikasi korban serta memastikan mereka mendapat bantuan yang sesuai.
Sebagian besar korban berusia antara 7 hingga 15 tahun, kelompok usia yang secara aktif menjadi sasaran yang rentan di media sosial dan platform game. Mereka menjadi korban Ethan antara 2018 dan 2025.
"Polisi menduga pria itu membuat banyak profil palsu online, baik laki-laki maupun perempuan, dan dia membujuk, memaksa, dan mengancam anak-anak muda untuk mengirim materi seksual eksplisit kepadanya," kata Clark.










