Siswa SD di Ngada Bunuh Diri, Bupati Sebut Faktor Penyebab Sangat Kompleks

Siswa SD di Ngada Bunuh Diri, Bupati Sebut Faktor Penyebab Sangat Kompleks

Terkini | inews | Rabu, 4 Februari 2026 - 20:28
share

JAKARTA, iNews.id – Kasus siswa SD Ngada bunuh diri yang terjadi di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Bupati Ngada Raymundus Bena menegaskan, penyebab peristiwa tragis tersebut tidak bisa disimpulkan hanya karena ketidakmampuan membeli perlengkapan sekolah.

Korban merupakan siswa kelas IV Sekolah Dasar (SD) yang ditemukan meninggal dunia di pohon cengkeh dekat kebun milik neneknya. Peristiwa ini terjadi pada akhir Januari 2026 dan sempat meninggalkan surat perpisahan untuk sang ibu.

Bupati Ngada menjelaskan, setelah menerima laporan terkait siswa SD bunuh diri, pemerintah daerah langsung membentuk tim internal yang melibatkan sejumlah perangkat daerah, mulai dari PMD, Dinas Pendidikan hingga Dukcapil.

Menurut Bupati, dari laporan awal yang diterima, latar belakang kehidupan korban tergolong kompleks. Sejak kecil korban ditinggalkan ayahnya dan diasuh oleh neneknya, sementara sang ibu harus menghidupi lima anak dengan kondisi ekonomi terbatas.

“Dari laporan tertulis yang saya terima, latar belakang kehidupannya cukup kompleks. Dari kecil ditinggalkan ayahnya, tinggal dengan nenek, dan kondisi ekonomi keluarga yang berat,” ujar Bupati Ngada kepada iNews TV, Rabu (4/2/2026).

Bupati juga menepis anggapan bahwa peristiwa siswa SD Ngada bunuh diri semata-mata disebabkan karena tidak mampu membeli buku atau alat tulis.

“Kalau hanya menyimpulkan karena tidak bisa membeli ballpoint atau buku, saya rasa itu terlalu dini. Masalahnya jauh lebih kompleks,” katanya.

Berdasarkan pantauan sementara dari pihak sekolah, korban dikenal sebagai anak yang ceria, aktif, dan suka membantu. Tidak ada tanda-tanda mencolok yang menunjukkan tekanan psikologis berat saat berada di lingkungan sekolah.

Namun demikian, Bupati mengakui perlu dilakukan pendalaman lebih lanjut, termasuk kemungkinan adanya tekanan psikologis yang tidak terdeteksi di sekolah maupun di rumah.

Sebelumnya, informasi yang beredar menyebutkan siswa SD bunuh diri diduga dipicu tekanan ekonomi dan ketidakmampuan membeli perlengkapan sekolah berupa buku dan pena. Dugaan ini diperkuat dengan pesan yang ditinggalkan korban.

Terkait bantuan pendidikan, Bupati Ngada menyebut pemerintah daerah telah memiliki sejumlah program, baik dari pusat maupun daerah, seperti Program Indonesia Pintar (PIP) dan bantuan seragam sekolah.

Namun, dalam kasus ini diduga terdapat kendala administrasi. Data kependudukan ibu korban tercatat di kabupaten lain, sehingga berpotensi menghambat pencairan bantuan.

“Masalah administrasi seharusnya tidak menjadi penghambat pelayanan. Ini yang akan kami evaluasi,” ujarnya.

Bupati memastikan pemerintah daerah akan melakukan evaluasi menyeluruh, termasuk audit terhadap penyaluran bantuan pendidikan agar tepat sasaran dan kejadian serupa tidak terulang.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Ngada, Elisius Kletus Watungadha menyatakan pemerintah daerah berkomitmen memberikan perhatian khusus kepada peserta didik dari keluarga kurang mampu.

Dia menyebut, terdapat dua program prioritas di bidang pendidikan, yakni bantuan melalui PIP daerah serta intervensi pengadaan seragam sekolah bagi siswa tidak mampu.

Menurutnya, kasus siswa bunuh diri harus dikaji secara mendalam dan menjadi perhatian serius seluruh pihak, tidak hanya pemerintah, tetapi juga sekolah dan lingkungan sekitar.

Topik Menarik